**Borneonews - Nunukan**, Pemerintah Kabupaten Nunukan yang terletak di Kalimantan Utara kini tengah melaksanakan langkah revitalisasi terhadap tiga embung sebagai upaya untuk mengantisipasi kekeringan dan memastikan ketersediaan air bersih di daerah tersebut.
Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid, mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan revitalisasi ini, kapasitas penampungan air akan meningkat secara signifikan. Hal ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat secara optimal.
Embung yang menjadi fokus revitalisasi mencakup Embung Bolong, Embung Bilal, dan Waduk Binusan. Saat ini, Embung Bilal dan Waduk Binusan sedang dalam proses pengerjaan, sedangkan untuk Embung Bolong masih dalam tahapan penetapan tata batas.
Pemerintah Kabupaten Nunukan, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk proyek revitalisasi ini. Anggaran sebesar Rp3,2 miliar akan dialokasikan khusus untuk Embung Bolong, yang mencakup kegiatan penggalian tanah dan pengerukan sedimen. Sementara itu, Embung Bilal dan Waduk Binusan masing-masing mendapatkan alokasi sebesar Rp345 juta dan Rp479 juta.
Meskipun proyek ini telah berjalan dengan lancar, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, salah satunya adalah proses penetapan tata batas untuk Embung Bolong yang terkendala oleh status lahan sebagai kawasan hutan lindung. Namun, masalah tersebut kini telah teratasi berkat upaya yang dilakukan oleh pihak terkait.
Bupati Nunukan menyatakan optimisme bahwa dengan adanya revitalisasi embung dan waduk, masyarakat di Nunukan tidak akan lagi mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau.
Pada bulan Februari 2024, Pulau Nunukan mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Taka Kabupaten Nunukan bersama dengan pihak-pihak terkait lainnya, dengan sigap mengambil langkah-langkah cepat untuk menghadapi permasalahan ini dengan melakukan pembagian air bersih secara langsung kepada masyarakat.
Embung Bolong yang berfungsi sebagai wadah utama penampung air baku sempat mengalami penyusutan hingga mengering mencapai kedalaman empat meter. Keadaan ini mengakibatkan pasokan air baku di wilayah itu berkurang, hanya mencapai 20 liter per detik, yang jauh di bawah rata-rata normal sebesar 50 liter per detik. Dengan kondisi demikian, Perumda Tirta Taka hanya mampu memenuhi kebutuhan air bagi 1.500 pelanggan dari total 7.000 pelanggan yang membutuhkan pasokan air bersih.
Distribusi air ke rumah-rumah pun harus dilakukan berdasarkan zonasi, yang mengakibatkan distribusi tidak merata dan masih ada sebagian warga yang kekurangan air. Oleh karena itu, Perumda Tirta Taka menerapkan tindakan darurat, dengan membagikan air secara gratis menggunakan mobil tangki berdasarkan sistem zonasi.
Kekeringan yang melanda Embung Bolong disebabkan oleh cuaca ekstrem yang berlangsung selama hampir tujuh bulan. Meskipun terjadi beberapa hujan lokal di Nunukan, kontribusinya tidak cukup signifikan untuk meningkatkan debit air baku.
Sebagai langkah untuk mengatasi krisis air bersih di Nunukan pada saat musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Nunukan juga sedang mengupayakan pembangunan 25 titik sumur bor yang diharapkan dapat membantu suplai air bersih untuk masyarakat.
ANTARA
Revitalisasi Embung di Nunukan Antisipasi Krisis Air Bersih
Bagikan:

TANJUNG SELOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







