JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, mengungkapkan bahwa kerukunan serta persahabatan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjadi contoh yang baik bagi umat beragama. Menurut Benny, keduanya menciptakan sebuah teladan dengan saling menghormati, menerima perbedaan, dan menghargai keragaman antar umat beragama. Dalam konteks ini, ia mengacu pada momen bersejarah saat Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal di Jakarta, yang tidak jauh dari lokasi Gereja Katedral. Keakraban yang terlihat antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Nasaruddin Umar dianggap sebagai simbol inklusivitas serta kerukunan yang bisa terlihat dalam masyarakat Indonesia. Sikap mereka patut diacungi jempol, karena mempresentasikan kemajemukan yang telah dikelola dengan baik di tanah air. Paus Fransiskus sendiri mengapresiasi prinsip *Bhinneka Tunggal Ika*, yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Dia menilai keberagaman yang terpelihara baik sebagai aset yang tidak dapat dinilai dengan uang. Benny menegaskan bahwa persahabatan yang terjalin antara Imam Masjid Istiqlal dan Paus Fransiskus tidak melanggar ketentuan agama Katolik. Ia mengatakan bahwa persahabatan ini merupakan hal yang manusiawi dan menekankan bahwa seharusnya agama mengajarkan nilai persaudaraan, bukan permusuhan. Di dalam harapannya, Benny ingin momen penting ini menjadi inspirasi bagi para tokoh agama lainnya, agar mereka dapat membangun hubungan persahabatan, saling menghargai perbedaan, serta terus menjaga kemajemukan bangsa. Ia meyakini bahwa hubungan yang harmonis ini akan memberikan dampak positif kepada umat beragama di tingkat akar rumput, sehingga akan tercipta suasana yang lebih rukun dan mampu menjalankan nilai-nilai perdamaian dalam keberagaman. Lebih lanjut, Benny juga menekankan pentingnya dialog budaya sebagai metode untuk menyelesaikan konflik serta mendorong penerapan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. "Melalui dialog, kita bisa mewujudkan apa yang pernah dikatakan Bung Karno bahwa Indonesia harus menjadi *taman sari dunia*. Walaupun berbeda dalam suku, etnis, agama, maupun keturunan, kita tetap adalah satu bangsa yang mengutamakan nilai cinta kasih, kemanusiaan, dan kerja sama," pungkasnya. ANTARA