MAKASSAR –
**Borneonews - Mamuju**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat sedang melakukan upaya bersama sejumlah instansi untuk memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya di kawasan yang rawan bencana. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulbar, Arnidah, menyatakan bahwa koordinasi ini sangat penting. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak penyandang disabilitas yang berada di daerah berisiko tinggi mendapatkan perhatian dan dukungan yang dibutuhkan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Mamuju. Rapat tersebut juga dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sulbar, Yurlin Tamba dari Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA), serta pekerja sosial dari Dinas Sosial Provinsi Sulbar, Muhammad Reza. Selama pertemuan, Arnidah menjelaskan bahwa tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah untuk merencanakan dukungan psikososial bagi anak-anak penyandang disabilitas yang berada di kawasan bencana. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, menjelaskan bahwa pertemuan ini adalah langkah awal dalam membangun kolaborasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap kebutuhan khusus anak-anak penyandang disabilitas di situasi bencana. Yasir Fattah menegaskan pentingnya tindak lanjut dari hasil koordinasi ini melalui langkah-langkah konkret, termasuk penyusunan protokol khusus dan pelatihan bagi petugas lapangan. Upaya ini diharapkan dapat memastikan bahwa tidak ada seorang pun anak yang tertinggal dalam penanggulangan bencana di wilayah Sulawesi Barat. Ia juga menekankan perlunya keterlibatan aktif dari komunitas dan keluarga dalam memberikan dukungan psikososial bagi anak penyandang disabilitas. Komitmen BPBD Sulbar adalah untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak guna menciptakan perlindungan yang optimal bagi seluruh masyarakat, khususnya kelompok-kelompok rentan saat menghadapi potensi bencana. ANTARA