BANDAR LAMPUNG –
**Borneonews - Bandarlampung**, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, menyatakan bahwa pemerataan dalam penyaluran kredit di wilayahnya sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk mendukung pemerataan pembangunan di daerah tersebut. Menurutnya, total penyaluran kredit perbankan di Lampung pada triwulan II 2024 mencapai Rp82,63 triliun. Namun, kondisi yang ada menunjukkan bahwa penyaluran kredit masih belum merata. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan porsi penyaluran yang lebih terdistribusi secara baik di seluruh wilayah Lampung. Otto menjelaskan lebih lanjut bahwa pertumbuhan serta distribusi kredit di masing-masing kabupaten dan kota di Provinsi Lampung pada triwulan II 2024 masih terpusat pada beberapa daerah. Tiga wilayah yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah Kota Bandarlampung yang mencapai Rp1,74 triliun, diikuti dengan Kota Metro yang menunjukkan pertumbuhan sebesar Rp0,44 triliun, dan Lampung Tengah dengan kontribusi Rp0,18 triliun. Dalam penjelasannya, Otto Fitriandy mengungkapkan bahwa Kota Bandarlampung menjadi daerah dengan penyaluran kredit tertinggi, mencakup 56,63 persen dari total penyaluran dengan nominal mencapai Rp46,23 triliun. Ini mengalami peningkatan dari triwulan I 2024 yang berada di angka 56,28 persen. Secara rinci, penyaluran terbesar disalurkan oleh bank umum yang totalnya Rp46,21 triliun, sementara bank perekonomian rakyat menyumbang sebesar Rp3,61 triliun. Di sisi lain, ia menginformasikan bahwa Kabupaten Tulang Bawang Barat menjadi daerah yang mengalami penurunan dalam penyaluran kredit di triwulan II 2024, dengan catatan penurunan sebesar 3,14 persen. Total penyaluran kredit di daerah ini mencapai Rp46,96 miliar. Berkenaan dengan kredit bermasalah atau *Non-Performing Loan* (NPL) di Lampung, Otto mencatat adanya peningkatan di triwulan II 2024 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dengan kenaikan sebesar 0,15 persen. Hal ini dipicu oleh ekspansi kredit yang dilakukan oleh bank serta peningkatan jumlah kredit bermasalah yang mencapai Rp0,16 triliun. Meskipun demikian, kualitas kredit di perbankan Lampung masih terjaga, dengan rasio kredit bermasalah yang tercatat di angka 2,43 persen. Ia juga memaparkan bahwa terdapat tiga sektor ekonomi utama yang berkontribusi terhadap kredit bermasalah, yakni sektor perdagangan besar dan eceran dengan nilai Rp0,71 triliun, sektor penerima kredit di luar lapangan usaha sebesar Rp0,43 triliun, serta sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan dengan kontribusi Rp0,29 triliun. ANTARA