JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Politisi Ganjar Pranowo dari PDI Perjuangan mengungkapkan bahwa dalam kondisi bangsa yang kini mengalami penurunan di berbagai sektor, sudah saatnya bagi para pegiat masyarakat sipil untuk merancang skenario perbaikan. Hal ini dimaksudkan agar negara dapat kembali bertumbuh dan berkembang dengan optimal. "Perbaikan dapat diwujudkan melalui serangkaian pertemuan yang bertujuan untuk bersama-sama mencari formula solusi," ujar Ganjar saat menjadi narasumber dalam diskusi yang diadakan oleh Forum Agenda 45 di Jakarta pada hari Selasa. Dia menegaskan bahwa perbaikan demokrasi di Indonesia memerlukan penegakan hukum sebagai panglima tertinggi, bukan politik yang dijadikan unsur utama dalam pemerintahan. Menurut Ganjar, keberadaan forum-forum diskusi seperti ini diharapkan bisa membantu mencerdaskan masyarakat. Kekuatan masyarakat sipil telah terbukti menjadi sumber perubahan positif bagi bangsa ini. "Dalam hal ini, penegakan hukum sebagai yang utama menjadi sangat penting dibanding politik yang sering menjadi fokus utama dalam pengelolaan negara," tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof Harkristuti Harkrisnowo, juga berpendapat bahwa penegakan hukum yang saat ini banyak terpengaruh fenomena *viral* perlu diperbaiki. Ia menyoroti masalah yang muncul ketika kasus-kasus tidak cukup mendapatkan perhatian publik. "Jika suatu kasus tidak viral, cenderung para penegak hukum tidak bertindak. Istilah 'no viral no justice' mencerminkan kenyataan yang sulit dihadapi, dan kita harus waspada terhadap potensi 'character assassination' atau perusakan karakter," jelasnya. Prof. Harkristuti juga mengatakan bahwa perlu dorongan untuk mempercepat pemikiran yang konstruktif. Ia mencontohkan keputusan Mahkamah Konstitusi yang membuka peluang bagi partai politik yang sebelumnya tidak dapat berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah. Penegakan hukum dan pengawasan harus dilaksanakan baik dari pihak eksternal maupun internal untuk mencapai keadilan yang diharapkan. Selain itu, Direktur Eksekutif Agenda 45, Warsito Ellwein, menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengadakan kegiatan diskusi. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan tradisi berpikir yang belakangan ini mengalami penurunan. Warsito mencatat bahwa masyarakat kini lebih fokus pada urusan sehari-hari, sehingga kurang berpikir untuk menemukan solusi atas berbagai kesulitan yang dihadapi. "Kami di Forum Agenda 45 merasakan bahwa tradisi berpikir kita sedikit menurun. Ada kecenderungan untuk berpikir dengan cara yang pragmatis dan praktis. Generasi Z kini terbuai tanpa berusaha menggali lebih dalam untuk menemukan solusi yang tepat," tegasnya. ANTARA