JAKARTA –
**Borneonews - Deli Serdang, Sumatera Utara**, Turnamen olahraga sering kali dibayangi oleh berbagai asumsi terkait persaingan yang ketat, gesekan di antara atlet, serta interaksi yang mungkin kurang harmonis. Dalam konteks Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara, hal tersebut patut dipertanyakan. Apakah atmosfer persaingan negatif itu muncul di sini? Jawaban akan bervariasi, tergantung sudut pandang. Namun, di balik persaingan sengit antar provinsi, khususnya antara Sumatera Utara dan Jawa Timur di cabang olahraga *bowling*, terdapat momen spesial yang layak dicatat. Dalam rangkaian perburuan medali emas, terdapat hubungan yang indah di antara atlet yang juga berstatus sebagai pasangan, bukan hanya di arena pertandingan, tetapi juga dalam kehidupan pribadi mereka. Contoh nyata dari hal ini adalah pasangan Billy Muhammad Islam dari Jawa Timur dan Nadia Pramanik Nuramalina dari Sumatera Utara. Keduanya telah menjalin hubungan pernikahan yang sah pada Mei 2024, bertepatan dengan persiapan mereka menuju PON XXI yang dibuka secara resmi pada 9 September di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Billy, yang berusia 27 tahun, adalah satu-satunya wakil dari Jawa Timur yang berhasil meraih tempat di semifinal dengan penampilan yang sangat menjanjikan, mengumpulkan total 1.361 poin dari enam permainan. Dia juga menjadi sorotan sebagai satu-satunya atlet yang mencetak angka sempurna 300 poin dalam satu permainan, meraih hasil tersebut lewat deretan *strike* yang mengesankan. Sementara itu, Nadia, dengan usia 29 tahun, tampil menghadapi tantangan yang tak kalah berat. Dia berjuang melawan 29 atlet lainnya untuk bisa melanjutkan langkah ke semifinal dan berhasil meraih urutan keempat, berhak melaju bersamaan dengan Aldila Indryati yang menduduki peringkat pertama. **Terpisah ruang dan waktu** Selama masa persiapan menuju PON XXI, Billy dan Nadia menjalani hubungan jarak jauh, yang dikenal dengan istilah *long distance marriage* (LDM). Meskipun menyandang status sebagai pengantin baru, mereka harus membagi fokus untuk mempersiapkan diri secara optimal dalam kompetisi ini. Pertemuan di antara keduanya sangat terbatas, dan mereka hanya dapat bersama sesekali untuk memenuhi kerinduan. Billy mengungkapkan, dukungan yang mereka berikan satu sama lain terjalin melalui doa dan komunikasi yang intens. Saat ditemui setelah pertandingan penyisihan, ia mengatakan bahwa meski harus saling mengenang dalam jarak yang jauh, semangat dan dukungan tetap mengalir untuk istri tercintanya. Nadia pun merasakan hal yang sama. Ia menyatakan bahwa meski saling mendukung dalam pernikahan mereka, dukungan tersebut terhambat oleh perbedaan kontingen yang mereka wakili. Mereka memilih untuk menunjukkan dukungan dan semangat dari jarak jauh, memahami bahwa profesionalisme sebagai atlet tetap harus dijunjung tinggi. **Buah manis pengorbanan** Akhirnya, setelah hampir empat bulan menjalani LDM, pengorbanan mereka mulai berbuah manis. Dalam semifinal, Nadia menunjukkan performa luar biasa dengan mengalahkan Aldila, yang sebelumnya meraih medali emas di PON XIX di Jawa Barat. Meski berhasil menembus final, ia harus menelan kekalahan dari wakil dari Jawa Timur, Shinta Ceysaria Yunita, dan pulang dengan medali perak. Sementara itu, Billy secara mengejutkan harus terhenti di semifinal saat berhadapan dengan atlet dari DKI Jakarta, meskipun ia tetap berhak atas medali perunggu. Dengan demikian, meski tidak pada momen yang bersamaan, keduanya berhasil meneruskan prestasi mereka di PON XXI Aceh-Sumatera Utara. Keduanya masih memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka di nomor-nomor pertandingan lainnya. **Pasangan lain, tapi beda nasib** Cinta di antara atlet *bowling* dari Sumatera Utara dan Jawa Timur juga tercermin dalam kisah Aldila Indryati. Ia juga bersuamikan atlet dari kontingen lain, TB Fachri Ibnu Askar. Aldila mengaku bahwa suaminya selalu mendukung setiap usaha yang dilakukannya, meskipun sering kali terpisah oleh jarak. Ia berhasil meraih medali perunggu dalam nomor tunggal putri, namun meski memiliki semangat yang sama, Fachri harus menghentikan langkahnya lebih awal di babak penyisihan. Melalui kisah-kisah tersebut, terlihat bahwa meski persaingan di arena olahraga sangat ketat, ikatan kasih dan dukungan antar pasangan tak pernah pudar. Dalam setiap pertarungan, tetap ada rasa saling menghargai dan menghormati yang patut dicontoh, menunjukkan bahwa cinta dapat menjadi bagian dari sportivitas dan kekuatan mental seorang atlet. ANTARA