YOGYAKARTA –
**Borneonews - Kulon Progo**, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, menginformasikan bahwa angka kematian ibu di wilayah tersebut mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2023. Angka kematian ibu turun dari 194,7 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2022 menjadi 25,35 per 100.000 kelahiran hidup. Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Sri Budi Utami, menjelaskan bahwa derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat melalui angka kematian ibu saat melahirkan. Definisi angka kematian ibu adalah jumlah kematian yang dialami perempuan selama masa kehamilan hingga 42 hari setelah melahirkan, yang dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup. Sri Budi Utami menambahkan bahwa kondisi pada tahun 2022 menunjukkan angka kematian ibu di Kulon Progo lebih tinggi dibandingkan dengan D.I.Yogyakarta yang mencapai 119 per 100.000 kelahiran hidup. Namun, pada tahun 2023, terjadi perbaikan yang signifikan dengan angka kematian di Kulon Progo yang jauh lebih rendah dari angka nasional, yaitu 62,72 per 100.000 kelahiran hidup. Dalam penjelasannya, Sri Budi menyebutkan bahwa tingginya angka kematian ibu pada tahun 2022 dipengaruhi oleh situasi pandemi COVID-19 yang belum tertangani dengan baik. Namun, seiring dengan pulihnya situasi tersebut, angka kematian ibu di tahun 2023 menunjukkan perbaikan yang positif. Sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu, Dinas Kesehatan Kulon Progo melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya: edukasi kesehatan reproduksi untuk remaja, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, serta pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin. Selain itu, ibu hamil juga diperiksa minimal enam kali serta mengikuti kelas-kelas ibu hamil dan pendampingan dari tenaga kesehatan. Sri Budi Utami juga mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan audit maternal perinatal sebanyak empat kali dalam setahun untuk meningkatkan layanan kesehatan. Selain itu, mereka juga membentuk grup WhatsApp bernama Rindu KIA untuk membangun jejaring peduli kesehatan ibu dan anak. Namun, di balik keberhasilan tersebut, Sri Budi mengakui sejumlah kendala yang masih dihadapi dalam penurunan angka kematian ibu, seperti adanya ibu hamil yang terlambat melakukan pemeriksaan, sehingga risiko kesehatan tidak terdeteksi sejak awal. Selain itu, masalah kehamilan yang tidak direncanakan dan tingginya kasus anemia pada ibu hamil, yang mencapai 30 persen, juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun angka anemia tersebut sudah mencapai target nasional di bawah 33 persen, Sri Budi mencatat bahwa ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis (KEK) tetap tinggi, yaitu 14 persen, lebih besar dibandingkan dengan target nasional sebesar 10 persen. Ke depan, Sri Budi menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan bahwa pada tahun 2024, semua ibu hamil menjalani pemeriksaan sesuai dengan standar yang ditetapkan, melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai dan ditangani oleh tenaga kesehatan yang berkompeten. Dengan demikian, diharapkan angka kematian ibu dapat ditekan secara signifikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. ANTARA