JAKARTA –
**Borneonews - Washington** Penunjukan Michel Barnier sebagai Perdana Menteri Prancis tidak hanya mencerminkan keahlian negosiasinya, tetapi juga berhubungan erat dengan keputusan politisi sayap kanan, Marine Le Pen, yang berasal dari partai National Rally. Hal ini diungkapkan oleh Paul Smith, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam sejarah dan politik Prancis di Universitas Nottingham, Inggris. Michel Barnier, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala negosiator Uni Eropa dalam proses perundingan *Brexit*, baru saja diangkat oleh Presiden Emmanuel Macron untuk memimpin kabinet pemerintahan Prancis. Dengan dilantiknya Barnier, ia menjadi Perdana Menteri tertua dalam sejarah modern negara tersebut, menggantikan Gabriel Attal yang merupakan Perdana Menteri termuda. Menurut penjelasan Smith, meskipun Barnier dianggap sebagai calon yang potensial, penunjukannya sebagai Perdana Menteri terjadi setelah Marine Le Pen mengambil sikap untuk tidak menantang secara langsung pemerintah yang dipimpin oleh Macron. "Pada dasarnya, dia (Le Pen) telah menjadi penentu dalam penunjukan Barnier," ungkap Smith. Namun, Smith juga menyoroti adanya perbedaan pandangan politik antara Barnier dan Macron, yang berpeluang menimbulkan ketegangan di dalam pemerintahan. Dalam konteks kebijakan tertentu, terdapat kemungkinan Barnier memperoleh dukungan mayoritas, di mana National Rally bisa saja bersikap abstain atau bahkan memberikan dukungan terhadap pemerintahannya. Macron memilih Barnier berlandaskan kepada kecakapan negosiasi yang dimilikinya, terutama saat berhadapan dengan isu *Brexit*, di mana ia berhasil mempertahankan kesepakatan di antara 27 negara anggota Uni Eropa. Di sisi lain, koalisi sayap kiri, New Popular Front, meraih banyak kursi pada pemilihan legislatif Prancis, kemudian melayangkan protes setelah Macron menolak untuk mengajukan calon dari mereka, yaitu Lucie Castets, sebagai Perdana Menteri. Sebanyak 138 aksi demonstrasi diperkirakan akan dilaksanakan di seluruh Prancis sebagai respon terhadap situasi politik terkini. Smith menambahkan bahwa calon lain, Xavier Bertrand, juga tidak berhasil karena dinilai kurang mendapatkan dukungan serta dianggap tidak tegas mengenai isu imigrasi. Ketika ditanyakan mengenai niatan kelompok sayap kiri untuk menggulirkan mosi tidak percaya terhadap Barnier, Smith berpendapat bahwa mereka tidak akan bisa mendapatkan cukup suara tanpa dukungan dari National Rally. Di mata kelompok sayap kiri, penunjukan Barnier dianggap sebagai sebuah kemenangan bagi partai National Rally. "Mereka tidak akan bergabung dengan pemerintah, tetapi mereka ‘menyetujui’ penunjukannya untuk saat ini," jelas Smith. Sementara itu, hasil pemilihan yang anyar membuat situasi di parlemen Prancis menjadi tidak jelas, karena tidak ada satu pun partai yang mampu meraih suara mayoritas. ANTARA