JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan kapasitas 230 megawatt yang mengaplikasikan teknologi *co-generation* adalah suatu langkah penting untuk mempercepat transisi energi di Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, potensi sumber daya panas bumi di Tanah Air mencapai sekitar 24 gigawatt dan diproyeksikan untuk dimaksimalkan hingga tahun 2060. Salah satu inovasi utama yang dapat dilakukan adalah penerapan *co-generation*, yang akan memanfaatkan uap yang tidak terpakai pada model siklus biner. Proyek ini akan dilaksanakan melalui kerja sama antara PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP), di mana kedua perusahaan sepakat untuk membentuk usaha patungan. Wilayah kerja yang menjadi fokus mencakup panas bumi di Lahendong, Ulubelu, dan Lumut Balai. Eniya menambahkan bahwa teknologi yang digunakan memanfaatkan fluida kerja (*working fluid*) yang memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan air, seperti isobutane atau pentane. Fluida tersebut akan dipanaskan menggunakan uap panas bumi, yang kemudian dapat menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Keunggulan dari teknologi ini adalah panas yang tersisa dalam fluida sekunder dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya, termasuk pemanasan ruangan dan proses industri. Dengan pendekatan *co-generation* pada PLTP siklus biner, penggunaan energi panas bumi dapat dilakukan secara lebih efisien, dengan hasil listrik yang dihasilkan secara simultan. Untuk merealisasikan proyek ini, pihak PGE dan PLN telah melakukan sejumlah persiapan, antara lain penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), Perjanjian Pengembangan Bersama (JDA), serta pengintegrasian proyek dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2024-2033. Eniya optimis bahwa proyek ini akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan bauran energi di Indonesia, dan ia berharap proyek ini termasuk dalam daftar proyek yang direncanakan dalam RUPTL 2024-2033. ANTARA