JAKARTA –
**Borneonews - Ankara** Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam sebuah upacara yang memperingati ulang tahun ke-76 berdirinya negara itu, menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemampuan nuklir. Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap apa yang dia sebut sebagai ancaman dari negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea, Kim menggarisbawahi bahwa salah satu prioritas utama pemerintahannya adalah memperkuat dan mengembangkan kapabilitas militer untuk menjaga dan melindungi negara. "Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) berencana untuk secara bertahap memperkuat kekuatan nuklirnya agar mampu mengatasi semua tindakan ancaman yang dihadapi dari negara-negara saingan," ujarnya dengan tegas. Lebih lanjut, Kim menyatakan bahwa DPRK akan menggandakan upaya untuk memastikan bahwa semua angkatan bersenjata, termasuk kekuatan nuklir, dalam keadaan siap tempur penuh. Dalam pidatonya, dia juga menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh Amerika Serikat, yang menurutnya telah membentuk blok di kawasan yang menjadi ancaman signifikan bagi Korea Utara. "Kita tidak boleh melupakan bahwa dalam situasi yang penuh dengan berbagai ancaman yang dihadirkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, memiliki kekuatan militer yang tangguh adalah hak dan kewajiban yang tidak dapat ditawar oleh Partai dan Pemerintah kita," tegasnya. Kim menambahkan bahwa negara tersebut terus berhadapan dengan potensi ancaman nuklir yang serius. Ia meyakini senjata nuklir yang dimiliki Korea Utara digunakan semata-mata untuk pembelaan diri dan tidak dimaksudkan sebagai ancaman bagi negara lain, mengklaim Kore Utara sebagai negara nuklir yang bertanggung jawab. Pada bulan lalu, Korea Utara juga telah menyampaikan kritik terhadap rencana strategi nuklir Amerika Serikat yang baru, serta memperingatkan bahwa mereka akan terus menguatkan kemampuan nuklirnya. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh Washington tengah membangun struktur aliansi militer dengan beberapa negara di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Korea Selatan dan Jepang, dan menjadikan aliansi tersebut sebagai blok militer berbasis nuklir. ANTARA