**Borneonews - Kuala Lumpur**, Kampung Bharu menyediakan perspektif unik mengenai Kuala Lumpur yang dikenal luas. Ketika menyebut nama kota ini, banyak orang mungkin langsung teringat pada Menara Kembar Petronas. Meskipun Menara Merdeka 118 yang baru berdiri setinggi 679 meter, bangunan kembar ikonik setinggi 451,9 meter tersebut tetap menjadi simbol yang terukir dalam ingatan banyak orang.
Namun, cerita tentang pusat kota Kuala Lumpur tidak hanya berpusat pada Menara Kembar atau gedung pencakar langit lainnya yang semakin bertambah banyak sejak tahun 1990-an. Transformasi kawasan urban Kuala Lumpur tidak dapat dipisahkan dari kehadiran kampung-kampung di sekitarnya, di antaranya adalah Kampung Bharu.
Kampung Bharu, yang terletak di sisi utara Kota Kuala Lumpur, awalnya merupakan *Malay Agriculture Settlement* yang didirikan pada awal tahun 1900-an. Wilayah ini sebelumnya merupakan permukiman suburban yang ditujukan untuk masyarakat Melayu, dan kini telah bertransformasi menjadi bagian integral dari kota metropolitan.
Kegiatan menjelajahi Kampung Bharu memberikan pengalaman yang berbeda. Sementara berada di dalam gedung pencakar langit dapat memberikan kesan megah, menjelajahi Kampung Bharu di tingkat tanah menawarkan pengalaman yang lebih intim dan menawan. Kampung ini, menurut Fuad Fahmy, generasi ke-4 penduduk asli, dihuni oleh sekitar 18.000 orang dan menyimpan banyak sejarah yang memberikan nuansa lain daripada kesibukan Kota Kuala Lumpur.
Walaupun modernisasi telah mengubah beberapa aspeknya, Kampung Bharu masih mampu mempertahankan jejak sejarah dengan baik. Para pengunjung dapat menjumpai rumah-rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu, di mana banyak di antaranya telah berdiri lebih dari seabad. Rumah-rumah ini umumnya dicat dengan warna cerah khas Melayu seperti kuning, merah, dan hijau, dengan arsitektur yang mencerminkan budaya Melayu, meskipun ada pula yang memiliki elemen desain Bugis.
Salah satu contoh yang menonjol adalah rumah panggung berwarna merah di Jalan Haji Yahya Sheikh Ahmad. Rumah tersebut menjadi lokasi strategis bagi Warong Mak Nenek, tempat jualan nasi lemak yang hadir setiap pagi di hari kerja. Menurut Fuad, rumah tersebut memiliki atap bergaya Bugis Selangor, yang melambangkan kekayaan budaya campuran di area ini.
Dalam buku yang ditulis oleh Suleiman Mohamed dan Lokman Haji Mohd Zen bertajuk *Sejarah Kampung Bahru; Di Sini Awal Segalanya Bermula*, dijelaskan bahwa kehidupan di Kampung Bharu sangat teratur dan sehat, mengikuti tradisi kehidupan masyarakat Melayu. Setiap penduduk memiliki sebidang tanah seluas setengah hektar, yang memungkinkan mereka tidak hanya hidup, tetapi juga menetapkan ketahanan pangan.
Ketika Fuad mengajak untuk melihat salah satu rumah panggung lainnya, terlihat luasnya halaman yang ditanami berbagai jenis tanaman, seperti ubi kayu, pisang, dan kelapa. Kampung Bharu dulunya terdiri dari tujuh kampung kecil, dan kawasan yang tengah dilihat terletak lebih tinggi dibandingkan dengan rumah-rumah di dekat Sungai Klang.
Luasnya halaman di setiap rumah menjadi ciri khas permukiman Melayu. Halaman ini sering dijadikan tempat berkumpul keluarga, khususnya dalam acara kenduri. Kebiasaan menanam ubi kayu di halaman rumah juga telah ada sejak zaman Perang Dunia Kedua, dan sampai sekarang masih dipertahankan oleh penduduk kampung.
Kondisi rumah panggung dengan halaman luas ini semakin mencolok di tengah pesatnya pembangunan modern di Kuala Lumpur. Dari depannya, rumah ini terlihat kecil ketika berdampingan dengan gedung-gedung apartemen tinggi, yang menjadi simbol modernitas yang ada. Perbedaan ini menciptakan kontras yang menampilkan sisi lain kota.
Kampung Bharu telah menjadi tempat favorit bagi para fotografer untuk mengambil gambar menarik, dengan latar belakang gedung pencakar langit seperti Menara Kembar Petronas yang terlihat jelas dari beberapa sudut kampung.
Fuad kemudian mengajak rombongan untuk mengunjungi rumahnya. Rumah dua lantai yang juga terbuat dari kayu ini memberikan suasana hangat dan nyaman, penuh kenangan masa lalu. Kaligrafi serta lukisan-lukisan menghiasi dinding rumah, menciptakan nuansa yang kaya akan tradisi.
Rombongan itu juga dapat melihat koleksi buku milik kakeknya yang tersimpan dalam lemari kaca. Berbagai ornament dan koleksi jam tangan menghiasi ruang tamu, yang menyatu dengan ruang makan. Suasana nostalgia semakin terasa ketika ayah Fuad menyanyikan lagu *Japanese* klasik di depan para tamu.
Di Kampung Bharu, interaksi antarpenghuni sangat terlihat, dengan hampir semua orang saling mengenal. Suasana kebersamaan ini diperkuat oleh tradisi lokal, di mana generasi muda biasanya masih tinggal dengan orang tua mereka.
Saat melanjutkan perjalanan menuju Masjid Jamek Kampung Bharu, rombongan berhenti sejenak untuk menikmati suasana kampung yang kontras dengan modernitas di sekelilingnya. Di bagian halaman belakang salah satu rumah panggung, terlihat beberapa ayam berlarian, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang menyatakan bahwa pemandangan tersebut sangat jarang ditemukan di tengah kota besar.
Di samping rumah tersebut, juga terdapat warung sederhana yang menjual keripik dan kue kering tradisional. Warung ini menjadi salah satu pelengkap pengalaman menjelajahi kuliner lokal. Suasana Kampung Bharu, meski berada dalam jangkauan 1 kilometer dari Menara Kembar Petronas, menawarkan kedamaian yang kontras dengan hiruk-pikuk kota.
Kampung Bharu tentunya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat budaya yang kaya, menampilkan kebersamaan dan tradisi yang berakar kuat di tengah perubahan zaman.
ANTARA
Menjelajahi Pesona Kampung Bharu di Tengah Modernitas Kuala Lumpur
Bagikan:

Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Komentar (0)
Memuat komentar…







