JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Fenomena yang dikenal dengan istilah *tech winter* atau masa penurunan investasi dalam sektor teknologi, termasuk di dalamnya startup, ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga terjadi secara global. Hal ini disampaikan oleh Rudiantara, Ketua Nexticorn Foundation, dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika. Rudiantara juga menyoroti bahwa negara tetangga, seperti Vietnam, mencatatkan penurunan investasi di sektor teknologi yang signifikan, mencapai 50 persen dalam enam bulan pertama tahun 2024. Dengan kata lain, kondisi ini menunjukkan bahwa dampak *tech winter* bersifat luas dan tidak terbatas pada satu negara saja. Saat menjelaskan tinjauan yang lebih luas, Rudiantara menekankan adanya pergeseran dalam pola investasi di kalangan investor. Dulu, investor lebih terpaku pada aspek pertumbuhan yang agresif dan kerap melakukan investasi dengan strategi seperti cashback, diskon, dan pengiriman gratis. Namun saat ini, penekanan telah beralih ke arah profitabilitas. Kini, investor lebih mencari startup yang menunjukkan EBITDA positif serta cashflow yang berkelanjutan. Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut berharap bahwa perubahan fokus ini akan membangun fondasi yang lebih kuat bagi sektor startup di Indonesia. Startup diharapkan untuk lebih bertujuan efisiensi dan meraih keuntungan, bukan hanya pada peningkatan angka pelanggan semata. Lebih jauh, Rudiantara juga mencatat adanya pergeseran dalam tahap investasi. Terdapat lebih banyak investasi yang mengalir ke tahap awal dibandingkan dengan tahap lanjutan. Di sisi lain, ia mencatat bahwa meskipun investasi di tahap *seed* mengalami penurunan dari Rp494,5 miliar menjadi Rp401,8 miliar, jumlah startup yang mendapatkan dukungan pada tahap ini semakin meningkat. Perubahan orientasi investasi diharapkan dapat menciptakan startup yang lebih tangguh dan mampu beradaptasi dengan tantangan pasar yang lebih ketat. Rudiantara percaya bahwa dengan adanya seleksi yang lebih ketat ini, hanya startup yang berkualitas dan berorientasi pada hasil yang akan mampu bertahan di tengah situasi yang sulit. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi memaparkan proyeksi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Diperkirakan, pada tahun 2030, nilai ekonomi digital di Asia Tenggara akan mencapai Rp15.453 triliun, dengan Indonesia diharapkan menyumbang sekitar 36 persen dari total tersebut. Menurut Budi, pada tahun 2030, diprediksi bahwa ekonomi digital Indonesia akan mencapai sekitar 360 miliar USD. Ia menekankan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian target tersebut adalah dorongan digitalisasi yang merangsang kreativitas dan inovasi, khususnya dalam pengembangan startup yang lebih produktif ke depannya. ANTARA