**Borneonews - Jakarta**, PT Bank UOB Indonesia menegaskan bahwa meskipun terjadi penurunan dalam jumlah kelas menengah, hal ini tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja transaksi kredit perusahaan. Herman Soesetyo, selaku Kepala Bagian Kartu dan Pembayaran UOB Indonesia, menyatakan bahwa fokus utama segmen kredit mereka adalah pada nasabah kelas menengah ke atas.
"Saat kita melihat secara keseluruhan, memang ada dampak yang terasa. Namun, setiap bank memiliki target pasar masing-masing. Di UOB, kami tidak terpengaruh oleh penurunan ini. Kami tetap melihat banyaknya minat dari calon nasabah untuk mengajukan kredit," jelasnya usai peluncuran kartu kredit UOB Telkomsel di Jakarta.
Sementara itu, meskipun ada pergeseran kelas menengah, Herman mengungkapkan bahwa tingkat persetujuan (approval rate) untuk aplikasi kredit masih sesuai dengan target yang telah ditetapkan. "Tingkat persetujuan yang kami capai tetap sesuai dengan yang kami harapkan. Sejauh ini, kami tidak melihat adanya perubahan yang signifikan," ungkapnya.
Herman juga menyadari bahwa penurunan kelas menengah ini telah memberikan dampak pada sektor perbankan lainnya di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan yang jelas dalam jumlah penduduk kelas menengah. Pada tahun 2019, populasi kelas menengah mencapai 57,33 juta orang, namun turun menjadi 53,83 juta orang pada tahun 2021. Selanjutnya, jumlah tersebut terus menurun menjadi 49,51 juta orang pada tahun 2022 dan 48,27 juta orang pada tahun 2023. Pada tahun ini, populasi kelas menengah kembali berkurang menjadi 47,85 juta orang.
Menariknya, pada tahun 2024, jumlah penduduk yang tergolong sebagai *aspiring middle class* justru mengalami peningkatan, dari 128,85 juta orang menjadi 137,50 juta orang. Di sisi lain, jumlah masyarakat yang rentan miskin juga bertambah dari 54,97 juta orang pada tahun 2019 menjadi 67,69 juta orang saat ini.
Dalam peluncuran kartu kredit terbarunya, UOB Indonesia menjalin kerja sama dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) untuk mendukung gaya hidup digital para nasabah. Cristina Teh Tan, Direktur Consumer Banking UOB Indonesia, menjelaskan bahwa peluncuran kartu kredit ini mencerminkan esensi "Lifestyle Connected".
"Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam sektor niaga-el (*e-commerce*), yang didorong oleh peningkatan penetrasi internet, pertumbuhan kelas menengah, dan perubahan preferensi masyarakat dalam berbelanja secara online untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup digital mereka," ujar Cristina.
Dia melanjutkan dengan memaparkan bahwa saat ini, sebanyak 185,3 juta orang di Indonesia menggunakan internet, dengan penggunaan internet melalui perangkat mobile meningkat sebesar 0,6 persen dibandingkan tahun lalu. Terdapat tren gaya hidup yang signifikan, dimana 11,7 persen pengguna, terutama dari kalangan Generasi Y dan Z, menunjukkan prioritas untuk mengikuti perkembangan teknologi terbaru dan menghabiskan pengeluaran untuk hiburan dan rekreasi sebesar 49,4 persen, yang menciptakan pola hidup modern yang berfokus pada konektivitas, kenyamanan, dan mobilitas.
ANTARA
UOB Indonesia Yakini Transaksi Kredit Aman Meski Kelas Menengah Turun
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Wamen LH: Jaga Kelestarian Ekosistem Perairan Dimulai dari Daratan
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Komentar (0)
Memuat komentar…







