JAKARTA –
**Borneonews - Seoul**, Pertemuan yang diadakan di Seoul mengenai penerapan kecerdasan buatan (*artificial intelligence*, AI) dalam konteks militer telah menekankan pentingnya mempertahankan kontrol manusia. Tujuan dari seruan ini adalah untuk memastikan penggunaan AI dalam militer dilakukan secara bertanggung jawab serta untuk mencegah penyebaran senjata pemusnah massal yang berbahaya. Seruan tersebut tercantum dalam deklarasi bersama yang diratifikasi pada hari Selasa, setelah dua hari berlangsungnya konferensi bertajuk *Responsible AI in Military Domain* (REAIM). Pertemuan ini diselenggarakan oleh Korea Selatan sebagai forum multilateral untuk mendiskusikan pengembangan tata kelola yang tepat dalam penggunaan AI di bidang militer. Deklarasi tersebut menyatakan, "Keterlibatan manusia yang tepat harus tetap dipertahankan dalam proses pengembangan, penerapan, serta penggunaan teknologi AI di militer, termasuk langkah-langkah yang relevan terkait dengan penilaian dan kontrol manusia terhadap penggunaan kekuatan." Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Korea Selatan. Selain itu, deklarasi juga menegaskan bahwa teknologi AI harus berperan sebagai pendukung, bukannya penghalang, dalam upaya pelucutan senjata, pengendalian senjata, serta non-proliferasi. Menurut kesepakatan, tanggung jawab atas penggunaan dan dampak dari aplikasi AI dalam konteks militer tetap berada di tangan manusia. Dalam hal ini, pentingnya keterlibatan manusia harus diterapkan dalam semua tindakan vital yang berkaitan dengan membuat dan melaksanakan keputusan yang berdaulat mengenai penggunaan senjata nuklir. Hal ini tidak boleh dilupakan, dengan tetap mengedepankan tujuan untuk menciptakan dunia yang bebas dari senjata nuklir. Para peserta konferensi juga menyoroti perlunya pengembangan langkah-langkah pengamanan yang tepat, guna memastikan bahwa aplikasi AI dapat diandalkan dan terpercaya. Ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya malfungsi atau konsekuensi tidak diinginkan lainnya yang mungkin muncul akibat data, algoritma, atau bias yang ada. Konferensi REAIM tahun ini dihadiri oleh sekitar 2.000 pejabat dari pemerintahan serta pakar dari sektor swasta yang berasal dari 90 negara. Mereka berkumpul untuk membahas cara-cara mengatasi penerapan AI oleh militer, baik dari perspektif manfaat maupun risiko yang mungkin timbul. Menariknya, Rusia tidak diundang untuk menghadiri pertemuan tahun ini, mengikuti tren yang sama seperti tahun lalu, di mana mereka juga tidak dilibatkan. Dari negara-negara yang berpartisipasi, sebanyak 61 negara telah menyatakan dukungan terhadap deklarasi ini, dan kemungkinan akan ada penambahan negara lainnya, termasuk China yang saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mendukung hasil pertemuan ini, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber diplomatik. ANTARA