PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si mengungkapkan bahwa keberlanjutan industri kehutanan di Indonesia sangat tergantung pada penerapan kebijakan yang mendukung praktek manajemen hutan yang berkelanjutan. Dalam pembukaan Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) Ke-XXVII yang diadakan di Pontianak, Farah berharap seminar tersebut bisa menjadi jembatan untuk memperkuat kebijakan kehutanan yang ramah lingkungan. Lebih dari itu, ia mendorong agar industri kehutanan di Tanah Air dapat berkembang dengan baik dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Seminar dengan tema "Penguatan Integritas Kebijakan Kehutanan dan Manajemen Hutan untuk Mendukung Industri Kehutanan Berkelanjutan" diharapkan dapat menjadi forum untuk merumuskan berbagai strategi dalam kebijakan kehutanan yang efektif dan mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Salah satu pembicara dalam seminar tersebut adalah Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Dida Migfar Ridha, M.Si. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan hutan yang berkelanjutan harus dilandasi dengan manajemen yang bijaksana dan didukung oleh teknologi yang efisien serta ramah lingkungan. Menurut Dida, keberlanjutan dalam pengelolaan hutan bukan sekadar memastikan ekosistem tetap terjaga. Lebih dari itu, hal ini juga merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri kehutanan Indonesia di pasar internasional. Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS dari IPB University menambahkan pentingnya adopsi teknologi canggih dalam industri kayu agar Indonesia bisa kembali bersaing di tingkat global. Ia menekankan bahwa dengan teknologi yang lebih maju, pengolahan sumber daya alam bisa dilakukan dengan lebih efektif dan efisien, tanpa mengabaikan aspek kelestarian hutan. Selain seminar, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura juga menyelenggarakan pameran hasil hutan yang menampilkan beragam produk kayu serta kerajinan berbasis hutan. Pameran ini memperlihatkan berbagai jenis kayu yang diproses dengan teknologi modern serta kerajinan tangan seperti tas dan topi yang terbuat dari bahan rotan. Pameran tersebut berhasil menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat umum, yang menunjukkan ketertarikan terhadap potensi hasil hutan Indonesia dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Kegiatan ini juga memperkuat kesadaran akan pentingnya konservasi hutan serta keberlanjutan lingkungan. Akhirnya, pameran ini bertujuan tidak hanya untuk mengenalkan produk-produk lokal berbasis hasil hutan, tetapi juga untuk mendidik masyarakat mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan hutan demi generasi yang akan datang. ANTARA