JAKARTA –
**Borneonews - Banda Aceh**, Technical Delegate (TD) PB Muaythai Indonesia, Opniel Untung, saat ini masih menantikan keputusan resmi dari dewan hakim PB PON mengenai kelanjutan dari dua laga final cabang olahraga muaythai. Pertarungan tersebut adalah untuk kategori elite 60kg putra dan elite 63,5kg putra pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024. Opniel menyatakan, "Saya belum menerima kertas keputusan tentang hal ini." Ia menegaskan bahwa tidak akan ada penyelenggaraan partai final untuk kedua kategori tersebut sebelum ada keputusan definitif mengenai kelanjutan pertandingannya. Ia menjelaskan bahwa dewan hakim dari cabang muaythai telah mengambil keputusan terkait pertandingan ini, di mana terdapat beberapa banding yang diajukan ke dewan hakim PB PON. Dalam situasi ini, terdapat dua atlet yang seharusnya dinyatakan sebagai pemenang, tetapi mengalami protes. Atlet tersebut adalah Rachmat Rizal Gozali dari Papua dan Dwi Sukarno dari Banten. "Ini adalah permasalahan sudut pandang dalam pertandingan, dan kami kini masih menunggu keputusan dari pusat," tambahnya. Dua laga yang hingga saat ini masih tertunda adalah pertandingan elite 60kg putra yang mempertemukan Rachmat Gozali dari Papua melawan Agung Wahyudi. Selanjutnya, pertandingan elite 63,5kg putra antara Dwi Sukarno dari Banten melawan Indra Surya Onggeng dari Jawa Barat juga belum dapat dilaksanakan. Hingga Selasa malam, tepatnya pukul 19.00 WIB, telah dilakukan 14 pertandingan final dari total 18 nomor yang dijadwalkan. Beberapa nomor yang telah selesai adalah U23 kelas 43kg putri dan putra, U23 kelas 45kg putri, serta berbagai kategori elite seperti 45kg putra, 48kg putri dan putra, 51kg putri dan putra, 54kg putra, 57kg putra, dan 60kg putri. Untuk malam ini, empat nomor pertandingan masih dijadwalkan untuk dilanjutkan, di antaranya adalah elite 60kg putra, elite 63,5kg putra, elite 67kg putra, serta nomor elite 71kg putra. Keputusan mengenai penanganan pertandingan-pertandingan ini diharapkan bisa segera diumumkan untuk kelanjutan kompetisi. ANTARA