BORNEONEWS, Sampit - Upaya pembangunan hutan kota oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur terus berlanjut. Hutan kota Sampit ini selain diyakini yang terbesar di Indonesia juga memiliki ciri khas rawa pertama.
"Saya pernah tanyakan kepada para peneliti Universitas Gadjah Mada ini adalah yang pertama hutan kota ciri khas rawa. Ini adalah hutan kota pertama yang letaknya di rawa. Kalau di daerah lain memilih tempat yang lebih tinggi atau pegunungan," kata Kepala Dinas Kehutan dan Perkebunan (Dishutbun) Kotawaringin Timur, Sanggul Lumban Gaol, Selasa (26/7/2016).
Sanggul mengatakan itu saat memberikan sambutan pada acara ekpos laporan akhir penyusunan rencana induk master plan pengembangan hutan Kota Sampit oleh tim dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Sanggul menjelaskan, untuk pembangunan hutan Kota Sampit seluas 296 hektare ini, pemerintah Kotawaringin Timur menggandeng dua intansi yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan UGM.
Dua instansi itu diakui cukup berpengalaman dalam membuat rancangan dan membantu pengembangan Hutan Kota Sampit. Untuk pembuatan master plan, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp300 juta.
"Kegiatan ini sudah berjalan sejak 2015 penandatanganan MoU dengan LIPI dan UGM. Kami yakin pembuatan hutan kota ini akan membawa dampak cukup besar bagi pembangunan Kota Sampit ke depan," ucap Sanggul.
Saat ini sejumlah tahapan terus dilakukan oleh para peneliti seperti pemetaan serta inventarisasi berbagai macam satwa dan pepohonan yang ada di lokasi itu. Upaya pelestarian plasma nutfah atau tumbuh-tumbuhan seperti kayu-kayuan yang masih ada sisa kebakaran lahan.
"Paling tidak lima tahun ke depan sudah bisa kita bangun dan bisa dilihat masyarakat luas. Kebun raya Sampit ini juga bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor," ujarnya.
Proyeksi pemerintah daerah pada 2015-2016 bersama beberapa lembaga yang diajak kerjasama adalah pembuatan parit batas untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran.
"Selain untuk melindungi hutan agar tidak terbakar, pembuatan kanal atau parit pembatas dengan lahan di sekitarnya ini juga untuk penampungan air, air inipun tidak dibuatkan saluran pembuangan karena juga menjadi kebutuhan pohon yang ada disitu," katanya.
Sementara itu perwakilan tim dari Universitas Kehutanan UGM, Kaharudin mengatakan, tujuan pembangunan hutan kota ini yakni untuk konservasi gambut berikut tata airnya, konservasi biodiversitas (tumbuhan dan satwa), sebagai sarana rekreasi, penelitian pendidikan, sebagai identitas kota dan konservasi.
"Pengembangan ini akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan master plain yang kami rancang dengan Dishutbun," kata Kaharudin. (RAFIUDIN/m)








