**Borneonews - Perth, Australia**, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Perth, Listiana Operananta, bersama dengan Konsul Penerangan dan Sosial Budaya KJRI Perth, Antonius Prawira Yudianto, baru-baru ini mengikuti tahap akhir repatriasi sebanyak 332 keramik *TekSing*. Keramik-keramik ini sebelumnya ditemukan di situs lelang ilegal yang beroperasi di Australia.
Menurut penjelasan resmi dari KJRI Perth, sejumlah keramik tersebut mula-mula ditemukan pada tahun 2019 di Australia, dalam konteks pengoperasian lelang yang tidak sesuai dengan hukum. Pada 17 Agustus 2022, Menteri Kebudayaan Australia, Tony Burke, secara simbolis menyerahkan keramik-keramik tersebut kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, Siswo Pramono. Penyerahan tersebut merupakan langkah awal untuk memproses pemulangan keramik ke tanah air.
Setelah melalui proses yang panjang dan rumit, semua keramik *TekSing* tersebut akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada 8 September 2024. Proses repatriasi ini merupakan hasil dari koordinasi yang erat antara KJRI Perth dan berbagai pihak terkait, termasuk Tim Museum dan Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia.
KJRI Perth menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan seluruh pihak yang terlibat demi menjaga dan melindungi aset budaya Indonesia di wilayah kerjanya. Dalam konteks tersebut, keramik yang dipulangkan berasal dari kapal dagang Cina *TekSing*, yang mengalami kecelakaan pada tahun 1822 di perairan Selat Gelasa, Provinsi Bangka-Belitung. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Amoy (sekarang Xiamen) menuju Batavia (sekarang Jakarta) dan mengangkut sekitar 2.000 imigran Tionghoa serta sekitar 380.000 keramik.
Kapal *TekSing*, yang merupakan jenis kapal jung Cina berukuran panjang 50 meter dan lebar 10 meter, mengalami kecelakaan setelah menabrak karang. Bangkai kapal tersebut ditemukan di kedalaman sekitar 100 meter. Kejadian ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perdagangan dan kebudayaan maritim antara Indonesia dan Cina.
Repatriasi keramik ini tidak hanya berfungsi untuk mengembalikan warisan budaya yang hilang, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam pelestarian aset-aset budaya yang berharga.
ANTARA
Repatriasi 332 Keramik TekSing dari Australia ke Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Generasi Tua Dayak Tola' Keluhkan Bahasa Daerah yang Kian Menghilang
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Komentar (0)
Memuat komentar…







