YOGYAKARTA –
**Borneonews - Yogyakarta**, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan pembentukan sebuah *crisis center* yang berfungsi untuk memberikan respons dan mengelola informasi terkait penanganan kebencanaan dengan cepat di daerah tersebut. Usulan ini disampaikan oleh Ketua GIPI DIY, Bobby Ardiyanto, yang menyatakan pentingnya keberadaan *crisis center* untuk menjamin keamanan, khususnya bagi para wisatawan yang tengah berlibur di Yogyakarta saat bencana terjadi. Bobby menjelaskan bahwa pemerintah daerah DIY perlu membentuk lembaga serupa dengan yang ada di Bali. Dengan adanya *crisis center* tersebut, manajemen informasi mengenai potensi kebencanaan yang mungkin melanda wilayah ini dapat ditangani secara efektif. Menurutnya, Yogyakarta berpotensi memiliki banyak bencana yang dapat muncul secara tiba-tiba, sehingga keberadaan lembaga ini sangatlah mendesak. Informasi terbaru mengenai potensi gempa megathrust yang dapat berujung pada tsunami di kawasan tersebut semakin memperkuat urgensi pembentukan *crisis center*. Bobby menekankan bahwa institusi ini seharusnya dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dengan melibatkan berbagai sektor terkait, termasuk industri pariwisata. Selain itu, Bobby memberikan contoh operasi *crisis center* di Bali, khususnya saat erupsi Gunung Agung yang menyebabkan Bandara Internasional Ngurah Rai ditutup sementara. Dalam situasi tersebut, *crisis center* berhasil melakukan manajemen informasi dengan baik dan memberikan mitigasi untuk para wisatawan yang terdampak. Ia menambahkan, kejelasan mengenai siapa yang bertugas membantu wisatawan pulang ke hotel atau menuju bandara tanpa biaya juga menjadi salah satu keunggulan pengelolaan informasi di *crisis center*. Lembaga ini diharapkan juga dapat mengoordinasikan pertolongan pertama dengan cepat jika ada wisatawan yang mengalami sakit di suatu destinasi, dengan bekerjasama dengan fasilitas kesehatan terdekat. Lebih lanjut, keberadaan *crisis center* diharapkan dapat memperbaiki penyebaran informasi seputar bencana yang seringkali beredar di masyarakat. Dalam situasi darurat, informasi yang tidak dikelola dengan baik dapat merugikan, terutama bagi sektor pariwisata yang sangat sensitif. Misalnya, jika terjadi erupsi Merapi tanpa adanya informasi yang jelas, wisatawan pasti akan merasa takut untuk mengunjungi Yogyakarta. Bobby menekankan bahwa pembentukan *crisis center* merupakan bagian dari komitmen DIY untuk menciptakan destinasi pariwisata yang bertanggung jawab, dengan tujuan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi semua pengunjung. Sebelum pendirian lembaga ini, ia berharap BPBD DIY dan pelaku industri pariwisata dapat bekerja sama untuk merancang rencana kontingensi yang memadai sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan bencana alam yang bisa berlangsung sewaktu-waktu. Penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa setiap hari terdapat wisatawan yang berkunjung, sehingga strategi mitigasi untuk mereka menjadi bagian integral dari upaya menuai kesuksesan dalam menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang bertanggung jawab. ANTARA