JAKARTA –
**Borneonews - Sorong, Papua Barat**, Pertanian maggot menawarkan solusi untuk mengatasi limbah organik. Supendi, seorang aktivis lingkungan, tidak ragu untuk menyusuri jalanan rumah ke rumah guna mengumpulkan limbah organik, meskipun banyak orang mungkin merasa jijik dengan aktivitas tersebut. Limbah sudah menjadi bagian penting dalam kesehariannya, karena ia berhasil mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Sejak tahun 2022, Supendi bersama kelompok Peternakan Maggot dan Lalat Tentara Hitam (BSF) telah aktif mengumpulkan limbah organik dari warga di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Dengan keterampilan yang dimilikinya, ia melakukan penyortiran limbah dan mengumpulkan bahan organik sebelum memasukkannya ke dalam tempat-tempat kosong yang disiapkan. Dalam satu hari, Supendi mengumpulkan limbah dari sekitar 200 rumah, yang kemudian diangkut satu per satu. Dalam setiap perjalanan, ia mampu membawa sekitar 500 kilogram limbah organik, volume yang signifikan untuk mengurangi beban di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain mengumpulkan limbah, ia juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menyortir limbah dari sumbernya hingga pemanfaatannya. Supendi sangat bersemangat untuk mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam pemanfaatan limbah organik yang merupakan bagian penting dari upaya mengatasi masalah limbah dan menjaga lingkungan tetap sehat. Ia menjalankan aktivitasnya setiap hari dari pukul 08.00 hingga 12.00 waktu setempat, mengumpulkan limbah organik yang akan digunakan untuk budidaya maggot. Limbah organik yang telah dipotong kecil dapat langsung diberikan kepada maggot, sedangkan sisa makanan yang masih keras perlu diolah terlebih dahulu agar menjadi lunak. Dalam hal ini, Supendi menjelaskan bahwa untuk budidaya maggot, mereka memerlukan fasilitas khusus. Terdapat setidaknya 24 biopond yang disiapkan untuk menampung maggot yang dibudidayakan, di mana setiap biopond dapat mengurai hingga 20 kilogram limbah organik. Supendi, yang lahir pada tahun 1992, menyadari bahwa banyak orang merasa jijik saat menangani limbah, terutama karena limbah tersebut sering kali terlihat busuk dan tidak sedap dipandang. Namun, ia yakin bahwa limbah organik memiliki beragam manfaat. Selain mengurangi limbah rumah tangga, limbah tersebut juga memiliki nilai ekonomi sebagai pakan ternak dan pupuk alami. **Budidaya Maggot** Maggot, yang merupakan larva lalat hitam BSF—seringkali dianggap sebagai makhluk kotor dan menjijikkan—digunakan oleh kelompok Peternakan Lalat dan Maggot BSF di Desa Malawili, Kabupaten Sorong, untuk mengurai limbah organik rumah tangga. Supendi mulai budidaya maggot setelah menyadari bahwa limbah rumah tangga tidak dikelola dengan baik. Banyak limbah yang dibuang di lokasi yang tidak sesuai. Di Sorong, limbah rumah tangga dapat disortir dan diolah menjadi pupuk alami, mengingat sebagian besar wilayahnya digunakan untuk kegiatan pertanian. Didorong oleh tekad untuk mengurangi limbah rumah tangga di lingkungan hunian, Supendi dan kelompoknya mulai belajar secara mandiri tentang metode dan sistem budidaya maggot. Setelah memperoleh pengetahuan yang cukup, mereka memahami bahwa lalat BSF memiliki banyak manfaat. Selain berdampak positif dalam mengurangi limbah organik, lalat BSF juga dapat menjadi tambahan nutrisi untuk unggas dan ikan lele serta sebagai pupuk alami untuk tanaman. Oleh karena itu, Supendi merasa perlu untuk mengembangkan budidaya maggot ini. Budidaya maggot tergolong mudah, tidak memerlukan teknik khusus, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Biaya yang diperlukan juga terbilang rendah, hanya memerlukan konsistensi dalam perawatan intensif terhadap lalat BSF. Melalui pengetahuan dan niat yang kuat, Supendi serta anggotanya mulai membangun tempat budidaya maggot dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Rumah produksi maggot yang mereka buat terlihat sederhana, terbuat dari bahan kayu, papan bekas, dan seng yang sudah tidak terpakai. Meskipun terlihat seperti gubuk, namun di dalamnya terdapat ribuan maggot yang berkembang biak. Supendi dan kelompoknya meyakini bahwa tujuan untuk mengembangkan sesuatu yang bermanfaat dan memberikan manfaat tidak akan hilang. Tekad ini terus mendorong mereka untuk berinovasi dalam menghadapi tantangan dalam penanganan limbah organik di Sorong. Selain gubuk, mereka juga menyediakan kandang berukuran sedang yang dilengkapi fasilitas dasar untuk tempat lalat BSF bertelur dan menghasilkan bibit maggot. Proses panen telur lalat BSF dilakukan setiap dua hari dengan volume yang bervariasi. Setiap panen telur selalu diikuti dengan penimbangan untuk memastikan jumlah limbah yang dibutuhkan setelah telur menetas. Dalam satu periode, mereka berhasil memanen sekitar setengah kilogram telur BSF, yang memerlukan sekitar satu ton limbah organik sebagai pakan. Bagi kelompok ini, keterbatasan fasilitas dalam pengumpulan limbah bukanlah penghalang untuk terus mengembangkan bisnis maggot BSF. Dengan komitmen yang kuat, mereka menggunakan mobil pickup hasil swadaya untuk mengumpulkan limbah dari rumah warga. Limbah organik yang berhasil dikumpulkan setiap harinya mencapai 500 kilogram untuk memenuhi kebutuhan budidaya maggot BSF. Hasil dari budidaya maggot hingga saat ini masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelompok dan belum dijual ke pihak luar. **Solusi Terbaik** Secara lebih luas, maggot BSF dianggap sebagai salah satu solusi terbaik dalam menangani dan mengurangi limbah di wilayah Papua Barat. Kepala Dinas Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim Provinsi Papua Barat, Julian Kelly Kambu, memberikan apresiasi kepada Supendi dan anggotanya atas keberhasilan mereka dalam budidaya maggot BSF untuk mengatasi masalah pengelolaan limbah. Dia meyakini bahwa budidaya maggot BSF memiliki potensi ganda, yaitu untuk mengurangi limbah organik dan juga memberikan peluang bisnis yang menjanjikan, menciptakan lapangan kerja, serta memenuhi kebutuhan pupuk alami untuk pertanian dan peternakan. Pelaksanaan budidaya maggot dinilai sejalan dengan fokus pemerintah dalam menemukan solusi pemecahan masalah limbah serta peluang untuk mengembangkan perekonomian masyarakat. Pengelolaan dan pengurangan limbah merupakan bagian dari kebijakan strategi daerah sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 30 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Peraturan gubernur ini juga bertujuan untuk membantu mencapai target Indonesia untuk bebas sampah pada tahun 2025, melalui pengurangan limbah sebesar 30 persen dan pengelolaan limbah 70 persen pada tahun yang sama. Dengan demikian, budidaya maggot BSF menjadi salah satu solusi efektif untuk mencapai target nasional ini. Model pengelolaan limbah organik ini memiliki keunggulan karena selain ramah lingkungan, juga memberikan nilai ekonomi tambahan terhadap limbah. Dalam hal ini, pemerintah Papua Barat mengajak semua kepala daerah di enam kabupaten dan kota untuk mengambil langkah konkret dalam mengurangi dan mengelola limbah dengan bantuan sistem budidaya maggot. Kini, Supendi dan kelompoknya telah membuktikan bahwa pendekatan mereka dalam menangani limbah organik dapat mengurangi penumpukan limbah sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih. Saatnya setiap wilayah pemukiman di Kabupaten Sorong, bahkan di Papua Barat secara keseluruhan, menerapkan model pengelolaan limbah organik yang serupa dengan apa yang telah dilakukan oleh Supendi dan kelompoknya selama dua tahun terakhir. ANTARA