JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa target produksi gas bumi sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada tahun 2030 dapat tercapai. Keyakinan ini disampaikan oleh Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, yang mengemukakan bahwa Indonesia memiliki sejumlah proyek strategis dalam sektor migas. Proyek-proyek migas yang dimaksud meliputi Geng North yang berlokasi di Kalimantan Timur, Blok Masela di Maluku, dan Blok Andaman di Aceh. Dwi menambahkan bahwa, dengan adanya eksplorasi setelah pandemi, Indonesia berhasil menemukan cadangan gas yang cukup besar, yang menjadikan proyek-proyek ini memiliki potensi yang baik. "Gas kita optimis, karena saat eksplorasi berlangsung setelah masa pandemi, kami menemukan cadangan gas yang signifikan. Kini, produksi gas kita sudah menunjukkan tren meningkat," ujarnya di Jakarta. Dwi juga menjelaskan bahwa Indonesia diperkirakan akan mengalami kelebihan produksi gas pada periode 2030 hingga 2035. Saat ini, produksi gas bahkan mengalami pertumbuhan sebesar 20 persen. Ia percaya bahwa angka ini bisa terus meningkat, terutama jika didukung oleh pengembangan infrastruktur yang memadai, seperti proyek pembangunan pipa Cirebon-Semarang (Cisem). "Kita di Jawa Timur saat ini memiliki surplus sekitar 150 juta *cubic feet* per hari, namun mengalami kendala dalam distribusi karena pipa dari Cirebon ke Semarang masih terputus. Selain itu, wilayah Natuna juga memiliki potensi dengan kelebihan gas mencapai 100 juta kubik per hari, tetapi terhambat oleh beberapa segmen pipa yang belum terhubung. Ini menjadi tantangan yang harus kita tuntaskan," ungkapnya. Lebih jauh, Dwi menguraikan bahwa SKK Migas telah merancang beberapa strategi untuk mencapai target tersebut, yang terbagi ke dalam kategori jangka pendek, menengah, dan panjang. Untuk strategi jangka pendek, SKK Migas akan mengoptimalkan aset yang sudah ada dan mendorong eksplorasi guna menemukan sumber migas baru. "Produksi minyak tidak mungkin meningkat tanpa adanya penemuan baru yang signifikan, seperti yang terjadi di Banyu Urip (Surabaya), sehingga eksplorasi harus dilakukan secara masif," tegasnya. Dwi menambahkan bahwa, berdasarkan hasil eksplorasi, percepatan produksi energi menjadi sangat penting. Ia menyatakan bahwa strategi yang diambil selanjutnya adalah mendorong proses pemulihan dari aset-aset yang memiliki cadangan migas melalui penerapan *Enhanced Oil Recovery* (EOR). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya energi di Indonesia. ANTARA