**Borneonews - Medan**, Program pemusatan latihan jangka panjang bersama dengan penyelenggaraan kompetisi dianggap sebagai langkah yang strategis untuk mempercepat perkembangan cabang olahraga tenis meja di Indonesia. Hal ini bertujuan agar Tanah Air dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih unggul dalam olahraga tersebut. Pelatih Tim Tenis Meja Provinsi Jawa Barat, Anton Suseno, menyatakan bahwa pertandingan tenis meja berskala nasional, seperti yang berlangsung pada PON XXI di Aceh dan Sumatera Utara, akan berkontribusi significant terhadap peningkatan kualitas permainan atlet di tanah air. Anton menegaskan pentingnya keberlanjutan cabang olahraga tenis meja dalam event-event besar. Ia mencatat bahwa tenis meja telah menjadi bagian dari Olimpiade, sehingga menjadi keharusan bagi Indonesia untuk mengikutsertakannya dalam berbagai kejuaraan multi-event, baik di tingkat Asia, Asia Tenggara, maupun di skala nasional. "Tenis meja, sebagai cabang olahraga Olimpiade, seharusnya selalu ada dalam setiap ajang multi-event, baik itu di Asia, Asia Tenggara, maupun di tingkat nasional," tegas Anton di Medan. Melihat lebih jauh, Anton mengamati bahwa performa tenis meja di Indonesia telah mengalami penurunan. Pada SEA Games di Kamboja tahun 2023, Indonesia bahkan tidak berhasil meraih medali, yang ia anggap sebagai hasil dari minimnya kesempatan bertanding dan kurangnya pemusatan latihan yang teratur. "Harapan saya, para atlet harus diberikan akses pada pemusatan latihan jangka panjang. Negara-negara seperti Malaysia dan Singapura sudah melakukan pemusatan latihan itu sejak lama, bahkan ada yang telah melakukannya selama delapan tahun," lanjutnya. Dalam ajang PON XXI Aceh-Sumut, Anton mencatat beberapa atlet dari luar Pulau Jawa, seperti dari Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Tengah, telah menunjukkan perkembangan yang positif. Namun, dia menegaskan pentingnya distribusi program pembinaan yang lebih optimal agar prestasi tenis meja Indonesia dapat meningkat secara signifikan di masa mendatang. Lebih lanjut, Anton menilai kondisi pembinaan tenis meja di Indonesia belum berjalan dengan baik. Salah satu penyebab utama situasi ini adalah ketidakhadiran cabang olahraga tersebut pada PON XX di Papua serta absen dalam dua edisi SEA Games sebelumnya. Dia menambahkan, tanpa adanya kompetisi yang rutin dan jadwal latihan yang terstruktur, sulit bagi para atlet untuk mencapai pencapaian yang signifikan. Dalam pandangannya, dua faktor krusial bagi kesuksesan seorang atlet adalah kualitas latihan yang dijalankan dan frekuensi mereka bertanding. "Jika tidak ada kejelasan mengenai tempat latihan dan jadwal kompetisi, bagaimana mungkin prestasi dapat diraih?" ucapnya. Perlu dicatat bahwa cabang tenis meja tidak ikut berpartisipasi dalam PON XX di Papua disebabkan oleh konflik dualisme kepengurusan antara Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Indonesia (PP PTMSI) dan Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Indonesia (PB PTMSI). Konflik tersebut telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun dan berdampak pada absennya atlet tenis meja Indonesia dari arena kompetisi internasional. SEA Games Kamboja 2023 menjadi kejuaraan olahraga Asia Tenggara terbaru yang diikuti oleh Indonesia setelah negara ini absen pada dua edisi SEA Games sebelumnya. ANTARA