JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, menekankan pentingnya fokus pada kedaulatan pangan dan energi sebagai prioritas bangsa. Menurutnya, kedua aspek ini harus menjadi perhatian utama seiring dengan cita-cita besar yang diusung oleh pemerintah. "Lewat program-program yang dilanjutkan oleh presiden terpilih, Prabowo Subianto, kita harus berupaya mewujudkan ketahanan pangan dan energi demi kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Sudaryono dalam sebuah pernyataan di Jakarta. Dalam konteks ini, Prabowo Subianto berambisi untuk mempercepat pengembangan *biodiesel* B50, yang diyakini bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor hingga Rp300 triliun lebih saat ia resmi menjabat pada bulan Oktober mendatang. Sebagai upaya untuk mengimplementasikan program swasembada pangan dan energi berkelanjutan, Sudaryono juga melakukan dialog intensif dengan Agus Pramono, salah satu anggota Dewan Energi Nasional (DEN). Dalam diskusi tersebut, Sudaryono menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemerintah sangat fokus untuk memastikan ketahanan pangan dan energi nasional di tengah tantangan krisis global yang ada saat ini. "Berbagai langkah sudah diambil untuk mencapai kemandirian dalam sektor pangan dan ketahanan energi," tambahnya. Salah satu inisiatif signifikan adalah penanaman tebu perdana yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Kampung Sermayam, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan pada tanggal 23 Juli. "Kegiatan tersebut merupakan respons strategis terhadap krisis pangan global yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Ini merupakan wujud nyata komitmen Presiden dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional," ujar Sudaryono. Dia juga menjelaskan bahwa tebu, sebagai salah satu komoditas pertanian, tidak hanya berfungsi sebagai bahan baku gula, tetapi juga memiliki potensi untuk diolah menjadi bioetanol. Produk ini dianggap sangat penting sebagai bahan bakar alternatif, yang dapat mendukung ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan negara pada impor bahan bakar minyak. "Pemerintah optimis dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi pangan dan energi di kawasan Merauke dan sekitarnya, dengan memanfaatkan potensi hasil pertanian seperti padi, jagung, dan tebu untuk produksi gula pasir dan bioetanol. Berbagai fasilitas seperti laboratorium kultur jaringan, pembibitan tebu, dan kebun tebu juga telah disiapkan," ungkapnya. Di sisi lain, Agus Pramono dalam kesempatan yang sama, menyoroti proses transisi global menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Indonesia menargetkan untuk mencapai nol emisi atau *Net Zero Emission* pada tahun 2060. "Untuk mencapai tujuan tersebut, diharapkan semua lembaga negara yang memiliki peran dalam ketahanan pangan dan energi, seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dapat memperkuat kerjasama demi meningkatkan produksi energi baru terbarukan serta energi berbasis nabati," jelas Agus. Dia menambahkan bahwa Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan berambisi untuk menjadi pemimpin dalam energi hijau di tingkat global. ANTARA