JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, konflik yang berkepanjangan antara Palestina dan Israel telah mencapai fase yang sangat memprihatinkan. Riyad Mansour, Duta Besar Palestina untuk PBB, menyatakan dengan tegas bahwa Israel berupaya untuk memaksakan resolusi militer dalam konflik yang berlangsung di Gaza dengan tujuan untuk menghapus salah satu bangsa. Dalam pernyataannya di hadapan Dewan Keamanan PBB, ia menggambarkan tindakan Israel sebagai perang besar-besaran yang dipenuhi dengan berbagai pelanggaran. Mansour menegaskan bahwa strategi yang diterapkan oleh Israel mendekati tindakan *genosida* dan *apartheid*, yang keduanya mencerminkan upaya kolonialisme yang sistematis. Rakyat Palestina, menurutnya, menghadapi sejumlah tantangan besar termasuk penghinaan, pemindahan paksa, kehancuran, dan kematian dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak masa Nakba. Konteks sejarah Nakba, yang dimulai pada Mei 1948 dengan pendirian negara Israel, menggugurkan lebih dari 750.000 warga Palestina dari tanah mereka, merupakan sebuah peristiwa traumatis yang masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa Palestina. Mansour menyoroti bahwa alih-alih mengatasi tragedi tersebut, terdapat kalangan pemimpin ekstremis Israel yang ingin membawa situasi ini menuju sebuah akhir yang mengerikan, yaitu menciptakan Palestina tanpa keberadaan warga Palestina. Sejak serangan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dimulai Oktober tahun lalu, jumlah korban jiwa meningkat dengan pesat. Sekitar 700 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 150 anak-anak, sedangkan 6.000 lainnya mengalami cedera. Kondisi di Jalur Gaza semakin parah, dengan hampir 41.000 warga Palestina, mayoritas adalah wanita dan anak-anak, kehilangan nyawa sejak konflik memanas pada 7 Oktober. Penyelidikan oleh organisasi bantuan seperti Save the Children mengungkapkan bahwa sekitar 15.000 anak Palestina telah tewas, dengan 21.000 lainnya dinyatakan hilang, redundansi yang menunjukkan dampak tragis terhadap generasi muda. Blokade yang dilaksanakan oleh Israel masih berlangsung, memicu krisis kemanusiaan yang mendalam. Warga Palestina di Gaza mengalami kelangkaan akut dalam hal makanan, air bersih, dan obat-obatan, membuat kehidupan sehari-hari mereka semakin sulit. Sejarah Nakba, yang berarti "bencana" dalam bahasa Arab, menjadi babak kelam dalam perjalanan panjang konflik ini. Memperhatikan dinamika yang terjadi sejak awal abad ke-20, terutama pasca Deklarasi Balfour yang dikeluarkan pada tahun 1917, ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab Palestina semakin meningkat. Semakin banyaknya imigran Yahudi memperburuk situasi, dan konflik yang berlangsung antara 1936 hingga 1939 memperlihatkan kekerasan yang meluas sebagai respons terhadap kolonisasi dan mandat Inggris. Sejak akhir Perang Dunia II, imigrasi Yahudi ke Palestina melambat laun meningkatkan ketegangan, sehingga Inggris menyerahkan permasalahan ini kepada PBB. Resolusi 181 menciptakan dua negara yang berbeda, namun penolakan dari komunitas Arab yang membawa kepada Perang Arab-Israel 1948 menghasilkan tragedi berupa pengusiran ribuan warga Palestina dari tanah kelahiran mereka. Pada hari ini, jutaan pengungsi Palestina terpaksa tinggal di wilayah-wilayah lain termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Isu hak kembali pengungsi Palestina tetap menjadi salah satu fokus penting dalam proses perdamaian yang diupayakan. Strategi demografi yang diterapkan oleh Israel tidak hanya merupakan bagian dari masa lalu, melainkan juga memengaruhi kehidupan masyarakat Palestina sehari-hari. Taktik seperti pembongkaran rumah, penggusuran, dan perluasan permukiman ilegal membentuk lanskap baru yang merugikan Palestina, merusak harapan akan adanya penyelesaian damai. Melalui Perang Enam Hari 1967, Israel berhasil menguasai berbagai wilayah strategis, yang sebelumnya berada di bawah kendali Yordania dan Mesir. Aksi-aksi Israel sering kali mendapat sorotan tajam dari komunitas internasional, di mana banyak negara serta organisasi menggambarkan pendudukan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. Kebijakan di Yerusalem Timur dan Tepi Barat dipandang sebagai bagian dari strategi demografi kompleks yang dirancang untuk mengubah komposisi penduduk di wilayah yang diduduki. Keadaan yang dihadapi di Yerusalem Timur menunjukkan pengusiran yang semakin meningkat, di mana sekitar 350.000 warga Palestina kini tinggal bersamaan dengan 230.000 pemukim Israel. Pengusiran yang terjadi di wilayah ini, meskipun tidak selalu dengan menggunakan kekerasan, tetap menunjukkan upaya Israel dalam memperluas kendali atas tanah Palestina. Keberadaan perampasan tanah dan pembongkaran rumah menjadi tantangan utama bagi warga Palestina yang terus berjuang mempertahankan eksistensi mereka di bawah tekanan yang semakin meningkat. Kenyataan yang dihadapi sehari-hari oleh masyarakat Palestina menunjukkan bahwa Nakba belum sepenuhnya berakhir. Meskipun perhatian dunia mungkin lebih terfokus pada konfrontasi di Gaza, isu pengusiran dan kolonisasi di Yerusalem Timur dan Tepi Barat tetap menjadi masalah yang mendasar dan memerlukan perhatian yang serius. Dengan dukungan komunitas internasional, perlunya gencatan senjata dan solusi dua negara menjadi lebih mendesak untuk dihentikan, demi mengakhiri siklus kekerasan yang terus berlanjut dan memulihkan harapan untuk damai bagi rakyat Palestina. ANTARA