**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan bahwa keberadaan sampah di perairan Indonesia memberikan dampak yang signifikan tidak hanya pada lingkungan lokal, tetapi juga dapat menyebar hingga ke benua lain.
Dalam sebuah diskusi mengenai masalah kebocoran sampah plastik di lautan yang berlangsung di Jakarta, Reza menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mencapai optimal. Ini terlihat dari tingginya tingkat kebocoran sampah yang terakumulasi di laut, dengan 70 persen dari sampah tersebut dihasilkan oleh aktivitas manusia di daratan.
Data yang diberikan oleh BRIN menunjukkan bahwa jenis sampah plastik yang mendominasi perairan Indonesia adalah plastik sekali pakai, seperti kemasan *sachet*, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan. Jenis sampah ini memiliki masa dekomposisi yang sangat panjang, mencapai ratusan tahun, yang pada akhirnya mencemari lautan dan merusak habitat biota laut.
Lebih lanjut, Reza menyebutkan bahwa sekitar 10-20 persen dari sampah yang berasal dari aktivitas di Indonesia berpotensi berakhir di perairan internasional. Dalam rentang waktu sekitar satu tahun, sampah tersebut bahkan dapat terbawa arus hingga ke Afrika Selatan. "Sampah yang kita impor, dalam tanda kutip, bukanlah hal yang positif, tetapi justru memberikan dampak negatif," ungkap Reza yang berafiliasi dengan Pusat Oseanografi BRIN.
Tingkat keparahan masalah ini terutama dirasakan oleh lingkungan sekitar, di mana bahaya mikroplastik yang terlepas dari sampah dapat mencemari ekosistem. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi dalam semua sampel air dan sedimen, serta pada berbagai spesies ikan dan kerang yang biasa di konsumsi masyarakat.
Dalam hal penanganan, BRIN tengah meninjau peluang pengelolaan melalui proses *bioremidiasi*, yang melibatkan penggunaan organisme seperti mikroba untuk membantu mengurangi tingkat pencemaran. "Sewaktu sampah sudah terlanjur bocor ke lingkungan, langkah yang harus diambil adalah mencari jenis mikroba yang paling efektif untuk mendegradasi sampah plastik tersebut," jelas Reza.
Ia juga mengusulkan pengelolaan yang lebih efektif secara ekoregion dengan meningkatkan fasilitas pengelolaan di berbagai daerah Indonesia, mengingat bahwa pengelolaan sampah sangat bergantung pada inisiatif pemerintah daerah.
BRIN terus melakukan penelitian untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah plastik. Salah satu pendekatan yang kini sedang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jauh, sensor bawah air, serta kecerdasan buatan untuk memetakan penyebaran sampah plastik dengan lebih akurat.
Menurut data dari Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), jumlah sampah plastik yang bocor ke lautan mengalami penurunan signifikan dari 615.675 ton pada tahun 2018 menjadi 359.061 ton pada tahun 2023, atau turun sebesar 41,68 persen. Pemerintah menargetkan penurunan sampah plastik yang berakhir di laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.
ANTARA
Dampak Negatif Sampah Plastik di Lautan Indonesia dan Penanganannya
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ini 2 Lokasi Depot Air Gratis di MB Ketapang Sampit
Oli Berceceran di Bundaran Besar Jalan Pemuda Kapuas
Anak Beruang Madu yang Terpisah dari Induknya Diselamatkan Warga Seruyan
Meski Awal Musim Hujan di Kapuas Diprediksi November, El Nino Berpotensi Kurangi Intensitas Hujan hingga 2027
Induk Orangutan Terluka Tetap Jaga Anaknya di Tengah Kepungan Karhutla Desa Kandan Kotim
664 Hektare Eks Konsesi PWN di Lamandau Terbakar
Komentar (0)
Memuat komentar…







