BORNEONEWS, Buntok - Dari 93 desa di Barito Selatan, sebanyak 22 desa yang belum teraliri listrik atau penerangan. Padahal ketersediaan penerangan sangat penting untuk menunjang kemajuan.
“Masih ada 22 desa yang belum teraliri listrik, sedangkan desa yang sudah ada listrinya sebanyak 71 desa,” kata Kabid Ketenagalistrikan dan Energi Distamben Barito Selatam Desso Robertio kepada Borneonews di ruang kerjanya, Rabu (27/7/2016).
Ia mengatakan, berdasarkan data saat ini jumlah rumah tangga yang belum teraliri listrik sebanyak 6.203 rumah dari 32.263 rumah tangga. Untuk rumah tangga yang teraliri pembangkit listrik non PLN 3.881, sedangkan yang menggunakan PLN 22.178.
Bagi desa yang belum teraliri listrik PLN tersebut, lanjut dia, pemerintah daerah berkomitmen agar bagaimana desa-desa itu dapat menikmati penerangan listrik negara tersebut seperti desa lainnya.
“Pada tahun ini ada enam desa yang masih dikerjakan dan diselesaikan pemasangan listriknya, baik PLN maupun non-PLN, sehingga nantinya ada sisa 16 desa yang belum teraliri listrik,” jelasnya.
Menurutnya, ada beberapa desa yang listriknya dibangun pada 2007 dan 2008 yang mengalami kerusakan akan diperbaiki sehingga tahun ini sudah bisa beroperasi lagi.
“Berkenaan dengan energi listrik yang kita punyai sekarang konvensional yakni menggunakan genset. Karena genset banyak alternatif energinya ada yang PLTS ada pula yang menggunakan BBM. Setelah kita evaluasi di lapangan ternyata masyarakat bukan hanya membutuhkan penerangan, namun membutuhkannya sebagai hiburan,” kata dia.
Jadi jika diberi PLTS dengan energi yang kecil, maka akan berisiko mengalami kerusakan dalam satu tahun dan parahnya tidak bisa diperbaiki. Kalau pun bisa harganya sangat mahal.
“Jadi alternatif energi yang dilakukan menggunakan genset karena lebih murah, walaupun biaya operasionalnya lebih mahal,” ucap Desso Robertio.
Ia menambahkan, kebutuhan energi listrik di suatu desa tidak hanya untuk penerangan, namun juga untuk hiburan seperti menonton TV, mendengar musik, bekerja, dan lain-lain.
Sementara itu seorang warga Desa Maruga, Kecamatan Dusun Utara mengungkapkan, pihaknya dalam satu minggu hanya tiga kali menghidupkan PLTD karena biaya operasionalnya mahal.
“BBM saat ini mahal. Jadi kita bersama warga lain patungan untuk mengisi bahan bakarnya, itupun hidup dari pukul 17.00 sampai dengan pukul 22.00 Wib. Bahkan kadang-kadang tidak hidup karena tidak ada uang untuk buat beli minyaknya,” bebernya. (URIUTU DJAPER/m)








