BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat atau NTPR Kalimantan Tengah mengalami kenaikan pada Agustus 2024, sebagai akibat dari kenaikan harga tandan buah segar atau TBS.
Kenaikan harga TBS ini karena penurunan produksi kelapa sawit yang terjadi akibat kekurangan air.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor andalan di Kalteng.
NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat pada Agustus 2024 menurut Agnes mengalami kenaikan sebesar 0,97 persen dibanding Juli 2024, dari 145,12 menjadi 146,53.
Kenaikan ini katanya disebabkan oleh indeks yang diterima atau It mengalami kenaikan yang cukup besar yakni 0,51 persen, sementara indeks yang dibayar atau Ib justru mengalami penurunan sebesar 0,45 persen.
"Kenaikan It pada Agustus 2024 sebesar 0,51 persen disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pada kelompok tanaman perkebunan rakyat, utamanya kelapa sawit. Kenaikan harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh produksi buah kelapa sawit yang menurun akibat kekurangan air," kata Agnes pada Rabu, 11 September 2024.
Kekurangan air yang melanda sebagian wilayah, kata Agnes,disebabkan hujan yang belum turun di beberapa wilayah sehingga menyebabkan pertumbuhan buah kelapa sawit tidak sebaik ketika kebutuhan airnya tercukupi.
"Adapun Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan dari 126,07 pada Juli 2024 menjadi 125,50 pada Agustus 2024. Penurunan pada Ib sebesar 0,45 persen didominasi oleh penurunan indeks kelompok KRT sebesar 0,60 persen," bebernya. (TESTI PRISCILLA/H)









