**Borneonews - Samarinda**, Puluhan peserta tunanetra berhasil menunjukkan penampilan yang mengesankan dalam Musabaqoh Tilawatil Quran Nasional (MTQN) yang ke-XXX yang diselenggarakan di Samarinda, Kalimantan Timur. Pada hari ketiga pelaksanaan, tingkat partisipasi dan dedikasi para peserta sangat terlihat, menciptakan suasana yang positif dan penuh semangat.
Yuliansyah, Koordinator Majelis Arena Tartil dan Tilawah Tunanetra MTQN XXX, menegaskan bahwa sejak awal acara hingga kini, kegiatan berlangsung dengan lancar dan tanpa adanya masalah yang berarti. Ia menyebutkan bahwa terdapat sedikit keterlambatan teknik pada hari pertama pelaksanaan, yang disebabkan oleh proses adaptasi terhadap sistem digital yang baru diterapkan.
Acara ini berlangsung di Auditorium Universitas Mulawarman, di mana para peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu cabang *tilawah* golongan tartil dan tunanetra. Sebanyak 129 peserta berpartisipasi, terdiri dari 40 peserta putri untuk tartil, 41 peserta putra, serta 26 peserta laki-laki dan 22 peserta perempuan dalam kategori tunanetra.
Kompetisi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pagi dimulai pukul 08.00 WITA hingga 13.00 WITA, diperuntukkan bagi peserta golongan tartil. Sedangkan sesi siang berlangsung dari pukul 13.30 WITA hingga 16.00 WITA khusus untuk peserta tunanetra. Menurut Yuliansyah, setiap harinya rata-rata antara 12 hingga 14 peserta dari kategori tartil tampil, sedangkan untuk kategori tunanetra, rata-rata delapan peserta ambil bagian.
Ia juga menjelaskan bahwa penerapan teknologi dalam sistem penilaian pada MTQN XXX kali ini memberikan banyak kemudahan bagi dewan hakim. Proses penilaian menjadi lebih efisien, dan hasilnya ditampilkan dengan transparan. Peserta dan masyarakat dapat mengakses hasil penilaian dengan mudah melalui tautan yang disediakan, memungkinkan semua orang untuk melihat siapa saja yang memperoleh penilaian tertinggi pada hari tersebut.
Lebih lanjut, Yuliansyah menjelaskan bahwa peserta tunanetra mengikuti perlombaan ini berdasarkan petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Terdapat dua metode yang digunakan oleh peserta tunanetra; pertama, beberapa peserta membaca menggunakan *Al-Quran* Braille, sementara yang lain menggunakan sistem pengundian untuk tiga hapalan yang harus dibacakan setelah diundi sepuluh menit sebelum tampil.
Sebagian besar peserta tunanetra memilih untuk tampil dengan mengandalkan hapalan, dengan jumlah sedikit yang menggunakan *Al-Quran* Braille. Yuliansyah menekankan bahwa kedua metode tersebut memiliki proses penilaian yang setara. Hal ini merupakan bentuk pengakuan terhadap kekhususan para peserta tunanetra, yang mungkin tidak dapat membaca *Al-Quran* Braille tetapi mahir dalam menghapal.
Dengan demikian, pelaksanaan MTQN XXX ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi aqidah dan seni baca *Al-Quran*, tetapi juga mencerminkan semangat inklusivitas dan penghormatan terhadap keberagaman cara belajar di kalangan peserta tunanetra.
ANTARA
Peserta Tunanetra Tampilkan Performa Mengagumkan di MTQN XXX
Bagikan:

SAMARINDA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Guru SDN di Banjarmasin Jadi Tersangka Pelecehan Siswi 12 Tahun
Komentar (0)
Memuat komentar…







