JAKARTA –
**Borneonews - Medan**, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 yang berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara tidak hanya menyajikan kompetisi sengit antar atlet dari berbagai daerah, tetapi juga berbagai kejadian menarik yang terjadi di luar arena pertandingan. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah munculnya kelompok "jurnalis dadakan" dalam beberapa hari ini di Kolam Renang Selatang, Medan, yang dijadikan lokasi perlombaan cabang olahraga akuatik. Berbeda dari perhelatan besar lainnya yang biasanya dihadiri oleh wartawan berlisensi resmi, kali ini situasinya sedikit berbeda. Di bangku penonton, terdapat sekumpulan pelajar berseragam yang dengan seksama mengikuti setiap langkah atlet yang berkompetisi. Mereka adalah siswa dari SMK Negeri 8 Medan, yang diberikan tugas oleh guru untuk meliput acara PON 2024. Layaknya jurnalis profesional, mereka tampak aktif mencatat poin-poin penting dari pertandingan yang berlangsung. Beberapa siswa bahkan berbaur dengan para wartawan yang meliput untuk media nasional serta lokal. Mereka tidak ragu untuk menghampiri para atlet setelah pertandingan selesai, guna melakukan wawancara. Salah satunya adalah Hafiza Syakira, siswi kelas 10 jurusan tata boga, yang berbagi pengalaman saat menjadi "jurnalis dadakan". Bersama rekan-rekannya, ia mendapatkan tugas untuk mendokumentasikan pertandingan dan menyiapkan laporan yang akan dipresentasikan di kelas. "Dibagi dalam beberapa kelompok, setiap anggota memiliki peran tersendiri, ada yang sebagai pewawancara, ada yang merekam video, hingga yang mengedit hasil liputan kami," tutur Hafiza. Pengalaman ini, menurut Zaskia, bukan sekadar tugas sekolah, melainkan juga kesempatan berharga untuk meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan berkomunikasi. Ia menambahkan bahwa ketertarikan terhadap dunia jurnalistik semakin menguat setelah menikmati proses liputannya. "Seru bisa terlibat, terutama dalam acara besar seperti PON. Kami belajar banyak, mulai dari mengamati pertandingan hingga mewawancarai atlet," ungkap Zaskia. Para atlet, seperti Gladies Lariesa Garina Hagakore dan Aldinsyah Putra Rafi dari Jawa Timur serta peloncat indah DKI Jakarta, Nur Mufiidah Sudirman, juga terlihat antusias ketika menjawab pertanyaan dari "jurnalis dadakan" tersebut. Namun, tantangan tidak hanya dihadapi oleh para pelajar ini. Jurnalis profesional pun mengakui bahwa meliput PON Aceh-Sumut 2024 bukanlah tugas yang mudah. Meskipun panitia penyelenggara telah membuat jadwal pertandingan jauh-jauh hari, kenyataan di lapangan kerap kali berbeda. Informasi yang sering simpang siur di arena olahraga membuat tugas para wartawan menjadi semakin menantang. Salah satu tantangan utama adalah ketidakcocokan antara jadwal yang dipublikasikan dan pelaksanaan di lapangan. Situasi ini mengharuskan para jurnalis, baik yang berpengalaman maupun yang baru meliput acara multicabang, untuk tetap sigap dan fleksibel menghadapi perubahan yang tidak terduga. Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, mengingatkan kepada seluruh jurnalis untuk selalu melakukan verifikasi informasi terkait penyelenggaraan PON 2024. "Sebagai jurnalis, penting bahwa kita melakukan *check* dan *recheck*. Sekarang ini, sumber informasi tidak hanya satu, ada yang *official* dan *unofficial*, baik di media sosial maupun di masyarakat," imbuh Nezar. Ia juga menekankan betapa krusialnya platform digital dalam menyebarluaskan informasi akurat dan mengantisipasi isu hoax. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Pengurus Besar PON dan media nasional, Kementerian Kominfo berusaha memastikan bahwa informasi yang diterima publik terverifikasi dengan baik. Dalam ajang sebesar PON, peran media massa sangatlah penting. Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Lukman Djajadikusuma, menegaskan bahwa keberhasilan acara ini sangat bergantung pada publikasi media. "PON dan media adalah dua hal yang tak terpisahkan. Tanpa adanya media, *multievent* ini ibarat *makan tanpa garam*," jelas Lukman. Ia menekankan bahwa media tidak hanya bertugas memberitakan prestasi atlet, tetapi juga dapat mengangkat aspek lain dari acara, seperti dampak ekonomi dan sosial bagi daerah yang menjadi tuan rumah. Contohnya, Lukman mengungkapkan betapa media internasional seperti *The New York Times* mengangkat kisah menarik dari Olimpiade Paris 2024, tidak hanya berfokus pada pertandingan, tetapi juga meng-highlight sisi humanis dan kebudayaan yang terkandung dalam kompetisi tersebut. Dengan adanya pusat media yang dilengkapi fasilitas yang memadai, Lukman berharap publikasi PON Aceh-Sumut 2024 dapat dimaksimalkan, sehingga tidak hanya prestasi atlet yang dibahas, tetapi juga nilai-nilai persatuan dan kebersamaan yang tercermin dalam ajang ini. Di sisi lain, Penjabat Gubernur Sumatera Utara, Agus Fatoni, juga menggarisbawahi pentingnya peran media dalam menyebarkan pesan persatuan yang diusung oleh PON 2024. Mengingat PON kali ini adalah yang pertama diselenggarakan di dua provinsi, ia berharap ajang ini dapat berfungsi sebagai momentum untuk menyuarakan nilai-nilai positif, baik untuk dunia olahraga maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Dengan publikasi yang meluas di berbagai media, baik nasional maupun lokal, diharapkan PON Aceh-Sumut 2024 akan menjadi lebih dari sekadar perayaan prestasi. Ajang ini diharapkan mampu merajut rasa persatuan dan kebersamaan di antara seluruh elemen bangsa. Bagi para "jurnalis dadakan" dari SMK Negeri 8 Medan, pengalaman berharga ini akan menjadi kenangan tak terlupakan serta pelajaran penting untuk masa depan mereka, baik di dunia jurnalistik maupun di profesi lainnya. ANTARA