JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menggambarkan pembunuhan Aysenur Ezgi Eygi, seorang aktivis berkewarganegaraan ganda Amerika-Turki, oleh pasukan Israel di Tepi Barat sebagai sebuah tragedi. Eygi, yang berusia 26 tahun, kehilangan nyawanya saat ikut dalam demonstrasi damai menentang pembangunan pemukiman ilegal Israel di Desa Beita, dekat Nablus pada hari Jumat, 6 September. Zakharova menyatakan bahwa peristiwa ini semakin menekankan seruan yang telah disampaikan Rusia, terutama sejak meningkatnya ketegangan di Jalur Gaza. Dia mencatat pentingnya adanya upaya deeskalasi dan penyelesaian yang berkelanjutan. "Konflik yang berkepanjangan dapat mengarah pada peningkatan kekerasan, tidak hanya di wilayah Palestina yang dijajah, tetapi juga di seluruh kawasan Timur Tengah," ujarnya dalam pernyataan yang disampaikan pada Rabu. Lebih lanjut, dia menekankan urgensi untuk segera menghentikan permusuhan dan menyediakan bantuan kemanusiaan bagi penduduk di Gaza, yang saat ini tengah mengalami penderitaan akibat konflik yang berlanjut serta blokade yang ditempatkan oleh Israel. Menurut Zakharova, langkah ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk mencari solusi menyeluruh yang sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku. Di sisi lain, militer Israel mengaku bahwa kemungkinan besar Eygi tertembak oleh pasukannya dalam keadaan "tidak langsung dan tidak sengaja". Pernyataan ini memicu kemarahan dari keluarga Eygi, yang mendesak dilakukannya penyelidikan independen terkait insiden yang merenggut nyawa perempuan yang baru saja lulus dari Universitas Washington tersebut. Situasi ini semakin memunculkan keprihatinan internasional mengenai dampak konflik yang tengah berlangsung di wilayah tersebut. Reaksi dari Rusia menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap stabilitas kawasan dan harapan akan langkah-langkah konkret menuju perdamaian yang berkelanjutan. ANTARA