JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia, Lisman Manurung, menekankan pentingnya penambahan penghasilan bagi para lansia atau individu yang memasuki masa pensiun. Hal ini dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan jaminan di hari tua serta menghadapi isu populasi yang menua atau *aging population* di Indonesia. Lisman menggarisbawahi bahwa jika pemerintah berkomitmen pada kebijakan yang dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan jaminan hari tua, maka pertimbangan tentang tingkat pendapatan masyarakat harus menjadi prioritas. Ia menyebutkan bahwa jika seorang pensiunan mengatakan bahwa mereka memerlukan penghasilan sebesar delapan hingga sepuluh juta rupiah per bulan, pemerintah sebaiknya memberikan jumlah tersebut. Lisman berpendapat, langkah tersebut tidak akan membawa kerugian bagi negara. Menurutnya, anggaran yang diberikan kepada para pensiunan akan kembali berputar ke dalam perekonomian. Pensiunan yang menerima tambahan pendapatan cenderung membelanjakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga ini sekaligus membantu menjaga stabilitas ekonomi. "Mereka pasti akan membelanjakannya, sehingga ini akan memutar ekonomi. Selain itu, para pensiunan itu sudah memberikan kontribusi yang besar selama hidup mereka," ujarnya. Lisman juga mencermati bahwa jika jaminan hari tua masih dipotong dari gaji pokok karyawan, hal ini akan mengurangi motivasi bekerja, terutama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas dalam pelayanan publik. Ia mencontohkan, ketika seorang karyawan menerima gaji, banyak potongan lain yang harus ditanggung, termasuk anggaran untuk jaminan hari tua. Situasi tersebut bisa menjadi kendala dalam semangat kerja mereka. Ia juga membandingkan sistem gaji untuk karyawan yang memasuki masa pensiun di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang dinilainya sudah jauh lebih baik dibandingkan Indonesia. Contohnya, di Malaysia, seorang dosen yang pensiun diberi keleluasaan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri atau menikmati masa pensiunnya dengan lebih santai. Ia mencermati bahwa di Bangkok dan Vietnam, sistem penggajian untuk pensiunan juga lebih baik, sementara Indonesia masih menghadapi masalah utang. Lisman mencatat, meski pendapatan rata-rata di Indonesia menunjukkan angka yang semakin tinggi, banyak pekerja kasar atau *hard labor* yang pendapatannya tetap rendah dan dilengkapi dengan jaminan sosial yang minim. "Kami masih melihat banyak orang yang mau melakukan pekerjaan berat dengan imbalan yang sangat sedikit. Di negara lain, pekerjaan berat sering kali dihargai dengan imbalan yang tinggi, seperti pekerjaan ahli pengelasan dasar laut yang bisa menghasilkan cukup untuk membeli mobil dalam waktu sebulan," tambahnya. Dia menekankan bahwa dalam rangka menciptakan rasa aman bagi masyarakat saat memasuki usia tua, pemerintah perlu mempertimbangkan tambahan kompensasi yang memadai untuk para lansia agar kualitas hidup mereka dapat meningkat. ANTARA