**Borneonews - Medan**, Halaman Gelanggang Olahraga (GOR) di Jalan Arief Rahman Hakim, Kota Medan, dipenuhi oleh kerumunan penonton dan peserta. Banyak pengunjung berkumpul di area tersebut, sementara tenda bazar berwarna putih menjulang di antara keramaian. Kendaraan, termasuk beberapa bus, terparkir mencolok di sebagian bahu jalan yang ada.
Setibanya di dalam gedung yang bertuliskan "Gedung Olahraga, Yayasan Sosial Angsapura", terlihat para atlet berkumpul dengan seragam olahraga yang berwarna-warni, berdiri rapi di tengah lapangan. Belasan arena untuk pertandingan tenis meja berdiri sebagai latar belakang, sementara atlet-atlet tersebut membawa papan nama yang mewakili 22 provinsi di Indonesia.
Acara secara resmi dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan *Indonesia Raya* diikuti dengan sambutan yang menggugah semangat. Salah satu kalimat yang disampaikan mampu memicu tepuk tangan antusias dari seluruh atlet yang hadir, yaitu pernyataan mengenai rasa syukur atas terselenggaranya pertandingan tenis meja di PON tahun ini.
Semangat yang terasa begitu membara di antara para peserta menggambarkan kerinduan mereka setelah menunggu selama delapan tahun untuk kembali dapat bertanding di ajang pesta olahraga nasional. Hal ini mengingat bahwa pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang berlangsung di Papua pada tahun 2021, cabang tenis meja tidak dipertandingkan.
Desi Ramadanti, seorang atlet yang sudah dua kali merasakan juara di PON sebelumnya, kini kembali menginjakkan kaki di ajang ini. Saat melawan Fitria Anjani Tululi dari Gorontalo dalam pertandingan pertamanya, Desi sempat merasakan kegugupan meski akhirnya meraih kemenangan dengan skor 3-0. Keberhasilan ini memberinya kebahagiaan yang mendalam setelah sekian lama menunggu momen tersebut.
Sambil mengusapi keringat yang ditinggalkan oleh pertandingan, Desi mengungkapkan rasa senangnya dan bertekad untuk meraih hasil maksimal. Ia tahu bahwa segala perjuangan dan kerja keras selama satu tahun berlatih, termasuk delapan bulan terakhir yang sangat intens, harus dibuktikan di lapangan.
Selama masa latihan, Desi dan rekan-rekannya kadang merasa khawatir karena tidak ada kepastian mengenai kepastian cabang tenis meja di PON XXI Aceh-Sumatera Utara. Ketidakpastian ini selalu mengganggu pikiran mereka, terutama setelah pengalaman buruk ketika tenis meja tidak dapat tampil di PON tahun lalu.
Desi, yang memiliki kenangan manis meraih medali emas di PON XIX pada tahun 2016, sangat berharap bisa mengulangi kesuksesan yang sama. Insya Allah, saya ingin meraih kembali emas dan membuat tim juara umum, ucapnya optimis.
Di sisi lain, perkembangan cabang tenis meja di Indonesia tidak selalu mulus. Distorsi organisasi dalam dunia olahraga ini ternyata telah berdampak besar bagi prestasi para atlet. Meski pernah sukses pada era 70-an hingga 90-an dengan beberapa atlet terkemuka, kini tenis meja Indonesia berada pada titik terendahnya.
Ketidakberhasilan Indonesia untuk berpartisipasi dalam PON XX Papua dan dua edisi SEA Games sebelumnya menunjukkan tantangan yang harus dihadapi. Terlebih lagi, prestasi yang didapatkan di SEA Games Kamboja 2023 pun tidak menggembirakan, meningkatkan kerinduan atlet akan kompetisi yang berkualitas.
Wahyudin Noor, sebagai Manajer Tim Tenis Meja DKI Jakarta, mengungkapkan rasa prihatin mengenai menurunnya peringkat tenis meja Indonesia di kancah internasional. Di masa lalu, Indonesia bisa mengalahkan pesaing seperti Vietnam dan Malaysia, namun kini keadaan berubah drastis.
Kehadiran tenis meja di PON XXI Aceh-Sumatera Utara menjadi harapan baru bagi para atlet yang rindu akan kompetisi. Kejuaraan ini dianggap sebagai langkah awal untuk kembali membangkitkan semangat dan prestasi tenis meja Indonesia.
Anton Suseno, seorang legenda tenis meja Indonesia, mengungkapkan pentingnya pelatihan berkualitas dan seringnya pertandingan untuk mengembalikan prestasi. Ia mencatat bahwa saat ini bakat tenis meja tersebar merata di berbagai daerah dan harus diberdayakan dengan baik untuk meraih kesuksesan.
Desi berharap agar federasi olahraga dapat mengadakan lebih banyak kompetisi dan liga di masa depan agar atlet dapat berlatih secara optimal. Harapannya semoga tenis meja Indonesia terus berkembang dan para atlet dapat berprestasi lebih baik, tutup Desi dengan penuh harapan.
ANTARA
Tenis Meja Indonesia Bangkit Kembali di PON XXI Aceh-Sumut
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Wamen LH: Jaga Kelestarian Ekosistem Perairan Dimulai dari Daratan
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Komentar (0)
Memuat komentar…







