**Borneonews - Karawang**, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) telah meluncurkan sebuah inovasi dalam menangani masalah abrasi di wilayah Karawang, Jawa Barat. Inovasi ini dikenal dengan nama *Appostraps*, yang merupakan akronim dari alat pemecah, peredam ombak, dan sedimen *traps*. Inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan dengan solusi yang ekonomis dan dapat diakses oleh semua pihak.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menyatakan, "Inovasi ini diharapkan dapat digunakan secara luas untuk menjaga masyarakat dan wilayah pesisir di Indonesia dari dampak abrasi." Dengan memanfaatkan ban bekas sebagai bahan dasar *Appostraps*, inovasi ini terbukti efektif dalam mengatasi masalah abrasi serta membentuk sedimentasi pada tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Karawang, Subang, dan Indramayu.
*Appostraps* yang terbuat dari ban bekas memiliki keunggulan dalam hal kemudahan perakitan dan duplikasi, serta biaya pemasangan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan material lain seperti *geobag* atau tanggul beton. Selain itu, inovasi ini juga telah memperoleh hak paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai jaminan keabsahan dan efektivitasnya.
Pada tanggal 10 September, Muzwir melakukan kunjungan ke kawasan ekowisata Pasir Putih di Karawang. Kawasan ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial PHE ONWJ yang bertajuk "Jaga Alam Melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir" (Jam Pasir). Dalam kunjungannya, ia mengungkapkan bahwa program *Appostraps* berhasil memulihkan lahan seluas 3,62 hektare yang sebelumnya hilang akibat abrasi dan mengembalikan garis pantai hingga 400 meter.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa, Wisnu Hindadari, memberikan apresiasi atas solusi inovatif yang ditawarkan oleh perusahaan. Wisnu menyampaikan, "Limbah ban bekas dapat diubah menjadi alat yang berguna untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi. Kami percaya bahwa perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya perusahaan besar saja."
Menurut kajian yang dilakukan oleh Climate Center, sebuah organisasi non-profit yang fokus pada isu perubahan iklim, sejumlah daerah di pesisir utara Jawa Barat diprediksi akan mengalami tenggelam dalam waktu delapan tahun ke depan, yaitu pada tahun 2030. Wilayah yang berpotensi mengalami kebanjiran tersebut mencakup Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon. Fenomena ini merupakan akibat dari kenaikan permukaan air laut dan proses abrasi yang terus mengg erus daratan.
Ancaman abrasi ini dirasakan secara langsung oleh Sahari, seorang tokoh masyarakat di Pasir Putih, Karawang. "Sepuluh tahun lalu, kami hidup dalam ketakutan karena daerah kami tergerus lautan," ungkapnya. Sebelumnya, kejadian air laut yang memasuki rumah hingga ketinggian 10-15 cm sudah menjadi hal yang biasa, dan banjir rob sering datang tanpa pemberitahuan, kadang-kadang setiap tiga bulan atau bahkan setiap dua minggu. Banyak warga Pasir Putih yang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke rumah kerabat yang jauh dari pesisir.
Saat ini, warga di Pasir Putih, bersama dengan masyarakat dari Desa Ciparagejaya di Kecamatan Tempuran, serta Desa Mayangan di Kecamatan Legonkulon dan Kecamatan Balongan di Kabupaten Indramayu, sudah bisa merasakan manfaat dari inovasi *Appostraps* untuk melindungi mereka dari ancaman abrasi.
Sejak tahun 2017, PHE ONWJ telah memulai program pemberdayaan masyarakat di Pasir Putih dengan penanaman 30 ribu bibit mangrove, melibatkan masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP) Desa Sukajaya. Sahari sendiri merupakan salah satu inisiator pendirian kelompok tersebut. Pada tahun yang sama, PHE ONWJ melanjutkan kolaborasi dengan KKPMP untuk program pemasangan *Appostraps*, semakin memperkuat upaya perlindungan lingkungan di kawasan tersebut.
ANTARA
Inovasi PHE ONWJ dengan Appostraps Atasi Abrasi di Karawang
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Imam/Fairuz Tempati Peringkat Keempat AVC Suma Open 2026
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Ogasawara Jepang
MotoGP Australia 2026 Dibatalkan Menyusul Moto2 dan Moto3
Komentar (0)
Memuat komentar…







