SURABAYA –
**Borneonews - Jember**, Penemuan flora endemik yang langka dan terancam punah, yang dikenal dengan nama ilmiah *Dehaasia pugerensis*, menjadi sorotan setelah ditemukan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember, Jawa Timur. Jenis tumbuhan ini diperkirakan hanya ada di Kabupaten Jember dengan jumlah individu dewasa yang tersisa hanya 191. Penemuan tersebut merupakan hasil dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Save Indonesian Nature & Threatened Species (SINTAS) Indonesia dan Pusat Riset Ekologi dan Etnologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pelatihan ini berkolaborasi dengan pengelola Taman Nasional Meru Betiri. Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Meru Betiri, Nur Rohmah, menjelaskan bahwa selama pelatihan, peserta berhasil menemukan tumbuhan endemik ini di sekitar jalur akses di hutan. Menurut Nur Rohmah, BRIN telah melakukan penelitian terkait spesies *Dehaasia* sejak tahun 2020. Penelitian tersebut menegaskan bahwa tanaman ini merupakan satu-satunya spesies flora endemik yang ditemukan di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Dengan hanya terdapat 191 individu dewasa, keberadaan spesies ini sangat kritis. Spesies *Dehaasia pugerensis* tercatat dalam daftar merah yang diterbitkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan ditetapkan pada kategori terancam kritis. Nur Rohmah mengekspresikan rasa syukur karena masih dapat menemukan tumbuhan ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Penemuan tumbuhan endemik tersebut dilakukan di Resort Andongrejo, yang termasuk dalam Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Ambulu. Saat pelacakan di lapangan, peserta pelatihan menemukan setidaknya lima individu flora *Dehaasia*. Selain itu, petugas dari TN Meru Betiri juga mencatat penemuan tumbuhan tersebut di Resort Bandealit dan Resort Wonoasri, yang keduanya juga termasuk dalam SPTN Wilayah II Ambulu, sehingga berdasarkan total temuan, jumlah individu tumbuhan ini diperkirakan mencapai 15. Nur Rohmah juga meyakini bahwa tumbuhan ini mungkin dapat ditemukan di bagian lain dari Taman Nasional Meru Betiri, mengingat bahwa petugas dengan mudah menemukan individu yang berukuran kecil. Dia menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan inventarisasi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai populasi spesies ini. Dari data inventarisasi flora yang ada, Taman Nasional Meru Betiri mencatat setidaknya 602 jenis tumbuhan, yang terdiri dari 98 famili, di mana 242 di antaranya memiliki khasiat sebagai tumbuhan obat. Dengan penemuan *Dehaasia*, jumlah flora di area tersebut bertambah menjadi 603. Ke depannya, pihaknya memiliki pekerjaan rumah untuk lebih mendalami jumlah individu spesies *Dehaasia pugerensis* dan menentukan ketinggian optimal tempat tumbuhan ini dapat tumbuh. Hal ini sangat penting, mengingat tumbuhan endemik biasanya memiliki habitat yang khusus dan unik. Nur Rohmah menekankan pentingnya melindungi spesies ini agar tidak punah. Ia memperkirakan tinggi tumbuhan ini sekitar 8 meter, namun pohonnya tergolong kecil, sehingga tidak menjadi sasaran bagi praktik *ilegal logging* di area hutan. Dia juga menyatakan bahwa pertumbuhan flora dan fauna di TN Meru Betiri dipastikan akan meningkat, seiring dengan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas. Saat ini, pihaknya sudah memiliki basis data mengenai flora dan fauna yang ada di taman nasional tersebut. Taman Nasional Meru Betiri memiliki keunikan tersendiri sebagai salah satu wilayah di Pulau Jawa yang masih menyimpan sebagian hutan hujan tropis dataran rendah dengan keragaman ekosistem yang lengkap. Tercatat, taman nasional ini menjadi habitat bagi 512 jenis satwa, di antaranya 31 mamalia, 7 reptilia, 254 burung, 123 serangga, 40 ikan, 71 krustasea, 17 dragonfly, 10 amfibi, dan 6 bivalvia. ANTARA