**Borneonews - Jakarta**, Indonesia mengharapkan bahwa bencana tsunami yang terjadi di Samudera Hindia dua dekade silam, tepatnya pada tahun 2004, dapat mendorong negara-negara ASEAN untuk lebih tangguh menghadapi bencana alam. Harapan ini disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam sebuah pernyataan, yang menekankan pentingnya kerjasama antarnegara untuk meningkatkan ketahanan terhadap ancaman bencana.
Dalam sambutannya pada acara 2024 Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) dan Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference (ADEXCO) di JIExpo Kemayoran, Suharyanto menyatakan bahwa tragedi yang disebabkan oleh bencana alam tersebut harus menjadi pelajaran yang berharga. Ia menegaskan perlunya soliditas antarnegara untuk membangun ketahanan yang lebih baik, tidak hanya dalam menghadapi bencana, tetapi juga untuk bangkit lebih kuat setelahnya.
Forum internasional ini dihadiri oleh perwakilan dari sepuluh negara anggota ASEAN, serta melibatkan berbagai praktisi, ahli, dan pelaku bisnis di bidang mitigasi bencana. Diskusi yang berlangsung dalam forum ini menyoroti upaya-upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi bencana, serta menjadikan kawasan ini lebih tahan terhadap ancaman bencana di masa mendatang.
Suharyanto memberikan contoh konkret mengenai penyediaan teknologi deteksi gempa bumi dan tsunami yang dihasilkan dari forum ini. Selain itu, peningkatan keterampilan komunitas dan pengembangan berkelanjutan di tingkat regional juga menjadi fokus utama dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Tsunami Samudera Hindia yang melanda pada bulan Desember 2004 menimbulkan kerusakan yang sangat besar di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia, Thailand, Malaysia, Myanmar, serta negara-negara lain di Asia Selatan dan Afrika Timur. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 227 ribu jiwa melayang, lebih dari 45 ribu orang hilang, serta ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Beberapa ahli menyoroti bahwa keterbatasan informasi mengenai bencana dan kurangnya sistem deteksi yang memadai pada waktu itu memperparah dampak bencana. Oleh karena itu, Indonesia terus berupaya meningkatkan teknologi deteksi bencana dan mengkombinasikannya dengan kearifan lokal masyarakat untuk mengurangi risiko yang dihadapi.
ANTARA
Indonesia Dorong Ketahanan ASEAN Melalui Pembelajaran Tsunami
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Guru SDN di Banjarmasin Jadi Tersangka Pelecehan Siswi 12 Tahun
Mentan: Pengadaan Bulog Perkuat Cadangan Beras Pemerintah
Komentar (0)
Memuat komentar…







