JAKARTA –
**Borneonews - Abu Dhabi**, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini melakukan evakuasi terhadap 97 pasien serta individu yang mengalami luka parah dari Jalur Gaza. Para pasien ini diantarkan ke ibu kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi, untuk menerima perawatan medis yang diperlukan. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada hari Rabu menyampaikan informasi rinci tentang proses evakuasi medis tersebut, yang berlangsung di tengah situasi konflik yang intens di Gaza akibat serangan militer Israel. Tedros menyatakan bahwa kerja sama antara WHO, Kementerian Luar Negeri UAE, dan berbagai mitra telah memungkinkan evakuasi ini terjadi. Dalam proses tersebut, sebanyak 97 pasien, yang didampingi oleh 155 orang, berhasil dipindahkan dari Gaza. Ini merupakan evakuasi medis terbesar yang dilakukan sejak bulan Oktober 2023. Para pasien tersebut dideportasi melalui titik perbatasan Kerem Shalom dan melanjutkan perjalanan mereka ke Bandara Ramon di Israel sebelum tiba di Abu Dhabi untuk menjalani perawatan. Tedros menjelaskan bahwa dari jumlah pasien yang dievakuasi, terdapat 45 anak-anak dan 52 orang dewasa yang mengidap berbagai jenis penyakit, termasuk kanker, masalah kardiovaskular, kelainan bawaan, gangguan darah, serta kondisi hati dan trauma. Meskipun menghadapi sejumlah tantangan operasional serta isu keamanan yang sangat signifikan, WHO bersama mitranya berkomitmen untuk memastikan bahwa semua pasien dapat dipindahkan dengan aman, termasuk menyiapkan fasilitas di Rumah Sakit Eropa Gaza. “Operasi yang sangat kompleks ini dilaksanakan dalam kondisi yang terbatas dan di bawah tekanan waktu yang sangat ketat untuk memastikan semua pasien dapat dipindahkan,” kata Tedros menekankan pentingnya misi tersebut. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa misi khusus tersebut juga bertujuan untuk memastikan bahwa delapan pasien dan 12 pendamping dapat berpindah dari Kota Gaza menuju Rumah Sakit Eropa Gaza tepat waktu, serta mengirimkan bahan bakar untuk mendukung program vaksinasi polio yang sedang berlangsung di kawasan tersebut. Selain itu, Tedros mengungkapkan rasa syukurnya kepada pemerintah Uni Emirat Arab atas kerja sama yang telah terjalin. Ia juga menggarisbawahi pentingnya pembangunan koridor evakuasi melalui semua jalur yang memungkinkan. “Pada akhirnya, perawatan terbaik bagi semua pasien adalah terwujudnya gencatan senjata,” tutupnya, mengisyaratkan akan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. ANTARA