JAKARTA –
**Borneonews - Beirut**, Jumlah warga yang terpaksa mengungsi dari wilayah selatan Lebanon akibat serangan Israel telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 140.000 orang. Pernyataan ini disampaikan oleh Penjabat Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati. Dalam keterangan resmi yang disampaikan melalui layanan pers pemerintah Lebanon, Mikati menjelaskan bahwa arus pengungsi terus meningkat seiring dengan kondisi yang semakin memburuk di Lebanon selatan. Keterpurukan ini sudah menarik perhatian dunia, khususnya setelah insiden serangan yang berlangsung. Mikati juga menegaskan bahwa para duta besar dari negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB telah mendapatkan informasi terkini mengenai situasi di wilayah tersebut. Informasi yang disampaikan mencakup kerusakan infrastruktur sipil dan tingginya jumlah korban jiwa, termasuk warga sipil, tenaga medis, dan pekerja penyelamat akibat dampak dari serangan Israel. Dia melanjutkan, "Kami meminta dilaksanakannya pertemuan Dewan Keamanan untuk mendiskusikan agresi yang terus berlanjut oleh Israel. Kami juga mencatat rencana untuk mengajukan keluhan tambahan kepada Dewan Keamanan, dengan pengharapan agar organisasi internasional dan PBB dapat mengambil tindakan yang diperlukan." Ketegangan di garis perbatasan antara Israel dan Lebanon telah meningkat sejak dimulainya operasi militer yang dilaksanakan oleh Israel di Gaza pada bulan Oktober 2023. Pihak militer Israel dan pejuang Hizbullah yang beroperasi di Lebanon sering terlibat dalam serangan terhadap satu sama lain di area perbatasan, menambah kompleksitas dan risiko di kawasan tersebut. Kementerian Luar Negeri Lebanon sebelumnya menyatakan bahwa sekitar 100.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di Lebanon selatan akibat dampak pengeboman yang dilakukan oleh Israel. Sementara itu, pihak berwenang Israel melaporkan bahwa sekitar 80.000 penduduk di utara negara tersebut juga harus mengungsi akibat penyerangan yang berasal dari wilayah Lebanon. Keadaan ini menggarisbawahi betapa mendesaknya situasi kemanusiaan yang sedang berlangsung dan perlunya perhatian serta tindakan dari komunitas internasional untuk membantu mengatasi krisis yang terjadi. ANTARA