JAKARTA –
**Borneonews - Lima**, Mantan Presiden Peru, Alberto Fujimori, telah meninggal dunia pada Rabu, 11 September 2024, di usia 86 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh putrinya, Keiko Fujimori, melalui sebuah unggahan di platform *X*. Dalam pernyataannya, Keiko menyatakan, "Setelah berjuang lama melawan kanker, ayah kami, Alberto Fujimori, baru saja wafat menemui Tuhan. Kami mohon doa dari mereka yang mencintainya agar jiwanya beristirahat dalam kekal. Terima kasih banyak, Ayah!" Ia juga menyertakan nama ketiga saudara kandungnya yaitu Hiro, Sachie, dan Kenji. Alberto Fujimori meninggal dunia di ibu kota Peru, Lima, kurang dari satu tahun setelah dibebaskan dari penjara. Sebelumnya, dia mengalami berbagai komplikasi kesehatan yang menyertainya sejak dijatuhi hukuman pada 2007. Fujimori, yang merupakan seorang ahli agronomi dan menjabat sebagai Presiden Peru dari tahun 1990 hingga 2000, menderita sejumlah masalah kesehatan selama masa penahanannya. Pada tahun 2009, ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan penculikan, pembunuhan, serta korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia. Dia diidentifikasi sebagai "dalang tak langsung" dari pembunuhan yang terjadi di Barrios Altos dan La Cantuta, yang menewaskan 25 orang. Masa kepresidenannya dipenuhi dengan kontroversi, terutama terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam sebuah persidangan, Fujimori pernah mengungkapkan betapa sulitnya bagi dirinya untuk memerintah, mengatakan, "Saya harus memerintah dari neraka. Bukan dari istana, tetapi dari neraka yang tidak dialami oleh mereka yang menuduh saya." Anak dari imigran Jepang ini menerima grasi kemanusiaan dari Presiden Pedro Pablo Kuczynski pada tahun 2017. Namun, grasi tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung Peru setahun setelahnya, yang mengakibatkan dia kembali mendekam di penjara pada tahun 2019. Pada akhir tahun 2023, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk membebaskannya, namun keputusan itu dipandang bertentangan dengan perintah dari Pengadilan Hak Asasi Manusia Antar-Amerika. Fujimori yang tidak memiliki pengalaman politik sebelumnya, mencalonkan diri untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dan berhasil mengalahkan penulis terkenal Mario Vargas Llosa dalam pemilihan putaran kedua. Selama masa kepresidenan, ia dikenal karena keberhasilannya menumpas dua kelompok pemberontak, yaitu *Shining Path* dan *Tupac Amaru Revolutionary Movement*, serta memulihkan ekonomi Peru yang sebelumnya terpuruk akibat inflasi yang tak terkendali. Pada 5 April 1992, Fujimori mengambil langkah drastis dengan membubarkan Kongres karena tidak mendapatkan dukungan mayoritas, dan mengalihkan kekuasaan dalam situasi darurat di Peru. Pada tahun 1995, ia terpilih kembali untuk masa jabatannya yang kedua, yang kembali dihantui oleh tuduhan korupsi dan tindakan otoriter. Ia berhasil terpilih selama masa jabatannya yang ketiga pada tahun 2000. Namun, pada November 2000, dia mengundurkan diri dari jabatannya saat berada di Jepang dan berhasil menghindari ekstradisi ke Peru selama enam tahun. Pada 2005, saat mencoba kembali ke Peru, ia ditangkap di Chile, yang kemudian menyerahkannya ke pengadilan Peru setelah dua tahun. Fujimori selama ini selalu menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Keiko, putrinya, yang kehilangan tiga pemilihan umum terakhir, menyatakan pada bulan Juli lalu bahwa ayahnya akan menjadi calon utama bagi gerakan Fujimorisme dalam pemilihan umum 2026 mendatang. ANTARA