JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Upaya untuk meyakinkan Hamas agar melunakkan tuntutannya dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel terus berlanjut. Hal ini terungkap melalui laporan yang disampaikan oleh Axios yang mengutip berbagai sumber yang terkait. Pada sebuah pertemuan yang berlangsung antara Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, dan perwakilan Hamas, para pejabat berusaha meyakinkan pihak Hamas untuk memperingan tuntutannya. Dalam konteks ini, salah satu fokus utama dari perundingan tersebut adalah permintaan agar Hamas mengurangi tuntutan mengenai pembebasan para tahanan Palestina yang saat ini mendekam di penjara Israel. Menurut informasi yang diperoleh dari Axios, upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesempatan terwujudnya kesepakatan gencatan senjata yang lebih stabil dan menyeluruh. Namun, seorang pejabat senior Israel mengemukakan keraguan terkait efektivitas dari pertemuan yang berlangsung di Doha tersebut dalam mengubah kondisi negosiasi yang ada. Hamas sendiri telah mengkonfirmasi kehadiran delegasinya yang bertemu dengan kedua pejabat tinggi Qatar dan Mesir demi membahas konflik yang berkepanjangan di Gaza. Dalam pernyataannya, gerakan tersebut menegaskan kesiapan mereka untuk segera melaksanakan kesepakatan gencatan senjata dengan syarat bahwa tidak ada tuntutan baru yang ditambahkan dalam perjanjian tersebut. Hal ini merujuk pada pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang disampaikan pada 31 Mei, serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 2734 dan kesepakatan yang dicapai pada 2 Juli. Situasi semakin memanas setelah pada 7 Oktober 2023, Israel menjadi sasaran serangan roket besar-besaran yang diluncurkan dari Jalur Gaza. Selain serangan roket, anggota Hamas juga melakukan infiltrasi ke wilayah perbatasan, menyerang pasukan militer Israel serta warga sipil, bahkan melibatkan pengambilan sandera. Menurut otoritas Israel, serangan tersebut telah mengakibatkan sekitar 1.200 jiwa melayang. Sebagai respons, Angkatan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan Operasi Pedang Besi di Jalur Gaza dan menetapkan blokade total terhadap wilayah tersebut. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat serangan udara Israel sejak tanggal 7 Oktober tahun lalu telah melebihi 41.000 orang. Kondisi di wilayah tersebut semakin memperuncing situasi, menandakan bahwa penyelesaian jangka panjang masih harus diperjuangkan melalui dialog dan negosiasi yang konstruktif. ANTARA