SEMARANG –
**Borneonews - Solo**, Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK Tekstil) telah menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan dalam industri tekstil dalam negeri. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur AK Tekstil Surakarta, Wawan Ardi Subakdo, dalam sebuah acara diskusi yang bertajuk "Menuju Era Kebangkitan Industri Tekstil dan Produk Tekstil Dengan Menyiapkan SDM Berkompeten dan Siap Kerja," yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah. Wawan Ardi Subakdo menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penghasil tekstil utama. Namun, saat ini negara kita lebih dikenal sebagai pasar utama untuk produk tekstil. Ia menilai, meskipun posisi tersebut masih bertahan, ada peluang yang terbuka untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil tekstil yang dominan. Menurutnya, AK Tekstil siap memberikan dukungan untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik bagi industri tekstil di dalam negeri. Ia mencatat bahwa permintaan dari industri untuk lulusan AK Tekstil selalu melebihi jumlah lulusan yang dapat dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan yang memiliki kompetensi dan kualitas yang baik akan berkontribusi signifikan terhadap Kebangkitan industri tekstil di tanah air. Wawan menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan sektor industri. Dia percaya bahwa kolaborasi tersebut adalah kunci untuk membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri tekstil di masa depan. Lebih jauh, sektor ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional yang terus berkembang dan memiliki daya saing yang baik. Dalam acara yang sama, Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Liliek Setiawan, menambahkan bahwa posisi industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia adalah sangat penting. Pada tahun 2023, sektor ini masih menjadi penyumbang utama ekspor, setelah sektor minyak dan gas. Bahkan di tengah pandemi COVID-19, industri tekstil dan produk tekstil berhasil memberikan kontribusi sebesar 14,22 miliar dolar AS, serta mampu menyerap sekitar 4,5 juta tenaga kerja. Liliek mengharapkan bahwa pada tahun 2030, industri tekstil dan produk tekstil mampu mencapai angka ekspor hingga 48 miliar dolar AS. Dia pun memperkirakan adanya kenaikan pangsa pasar dari 1,47 persen menjadi 5 persen. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan tambahan tenaga kerja yang mencapai hingga 3,9 juta orang. Dengan perkembangan positif di sektor tekstil, Liliek yakin sektor ini akan berperan dalam menyerap bonus demografi yang akan datang. ANTARA