JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Penurunan daya beli masyarakat yang signifikan serta perubahan dalam komposisi kelas menengah di Indonesia telah berdampak serius terhadap sektor bisnis ritel, terutama di Jakarta. Situasi ini menunjukkan tantangan tersendiri yang dihadapi oleh para pelaku industri. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Knight Frank Indonesia, sektor ritel di Jakarta dibagi menjadi beberapa segmen, termasuk *grade A*, *grade B*, *grade C*, dan premium *grade A*. Masing-masing segmen ini mengalami tekanan pasar dengan intensitas yang berbeda-beda. Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor dari Knight Frank Indonesia, dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta pada hari Kamis, menjelaskan bahwa segmen *grade B* dan *grade C* yang berfokus pada konsumen kelas menengah, menunjukkan koreksi yang lebih dalam dibandingkan segmen lainnya. Kinerja dari ritel *grade B* dan *grade C*, yang biasanya adalah mal dengan kepemilikan strata, semakin melemah karena adanya persaingan dengan pertumbuhan *online shopping* dan berlanjutnya penurunan daya beli masyarakat. Di dalam dunia ritel, terdapat dua model kepemilikan yang dominan: kepemilikan strata dan sewa. Pada model strata, para pemilik dapat membeli unit atau ruko dan memilikinya secara penuh, sementara pada model sewa, penggunaan unit atau ruko hanya diizinkan untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kesepakatan dengan pemilik properti. Syarifah mengungkapkan bahwa sektor ritel *grade B* dan *grade C* mengalami penurunan yang mencapai sekitar minus 3 persen. Ia menggarisbawahi bahwa kinerja dari ritel strata saat ini berada di bawah nilai rata-rata tingkat hunian yang ada di Jakarta. Berbeda dengan dua segmen yang lebih lemah, performa ritel *grade A* dan premium *grade A* masih tergolong cukup kuat. Para pelaku di segmen ini terus beradaptasi dengan ciri khas pasar yang terus berubah dan berinovasi dalam usaha mereka. Contohnya, sektor makanan dan minuman (F&B) menunjukkan pertumbuhan yang cukup mengesankan. Pelaku usaha di bidang ini tidak hanya terfokus pada segmen premium, tapi juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang ada di segmen *grade B* dan *grade C*. Meskipun terjadi penurunan dalam volume belanja secara umum, kebutuhan dasar seperti pangan dan pakaian masih menjadi pendorong utama aktivitas ritel. Namun demikian, pola konsumsi masyarakat yang berubah menuntut para pelaku bisnis untuk lebih kreatif dalam hal penawaran produk dan layanan mereka. Menurut Syarifah, kecepatan inovasi dari para pelaku ritel sangat penting untuk mempertahankan daya saing mereka di pasaran saat ini. Hal ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang ada. Sebagai tambahan informasi, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 47,85 juta jiwa, menurun dari angka 57,33 juta jiwa yang tercatat pada tahun 2019. ANTARA