**Borneonews - Jakarta**, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Muhadjir Effendy, terus berupaya mencari solusi terkait penurunan jumlah kelas menengah di masyarakat. Salah satu langkah yang diambil adalah penyediaan perlindungan sosial, termasuk dalam bidang layanan kesehatan dan ketenagakerjaan.
Dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada hari Kamis, Effendy mengungkapkan bahwa penurunan kelas menengah saat ini diimbangi dengan peningkatan jumlah individu yang masuk dalam kategori kelas menengah aspiratif. Namun, meskipun terdapat penurunan dalam kelas menengah, tingkat kemiskinan ekstrem menunjukkan tren penurunan, yang menunjukkan adanya perbaikan dalam stratifikasi ekonomi masyarakat.
Menteri Effendy memastikan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan terus berkomitmen untuk mencari cara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menambah jumlah kelas menengah. Salah satu solusi konkret yang diusulkan adalah pengembangan program jaminan sosial atau *social safety net*.
"Pada saat ini, terdapat dua jaminan yang diberikan terutama bagi kelas pekerja, terutama kelompok pekerja formal. Target dari asuransi kesehatan adalah tercapainya universal health coverage," ujarnya.
Lebih lanjut, Effendy mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran sehingga masyarakat dapat mengakses asuransi kesehatan dan layanan kesehatan secara gratis. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Selain perlindungan sosial dalam bidang kesehatan, pemerintah juga menyediakan jaminan sosial terkait ketenagakerjaan. Program-program ini mencakup Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian, Jaminan Pensiun, serta Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Menteri Effendy menjelaskan bahwa penurunan jumlah kelas menengah ini disebabkan oleh dampak jangka panjang yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19. Sebelum pandemi yang melanda pada tahun 2020, terdapat peningkatan yang signifikan dalam jumlah partisipasi kelas menengah selama lima tahun sebelumnya.
Sebelumnya, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024 mengungkapkan adanya penurunan jumlah kelas menengah yang tercatat. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah menyusut dari 57,33 juta pada tahun 2019 menjadi 53,83 juta pada tahun 2021.
Selain itu, BPS juga mencatat laju penurunan jumlah kelas menengah berlanjut dengan pencatatan 49,51 juta pada tahun 2022, turun lagi menjadi 48,27 juta pada tahun 2023, dan akhirnya menjadi 47,85 juta pada tahun 2024.
Walau demikian, data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah mereka yang berada dalam kategori kelas menengah aspiratif meningkat dari 128,85 juta menjadi 137,5 juta pada tahun 2024. Dengan demikian, meskipun jumlah kelas menengah mengalami penurunan, ada harapan dalam pertumbuhan kelas menengah baru di masyarakat.
ANTARA
Solusi Pemerintah Atasi Penurunan Kelas Menengah di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Rian/Daniel ke Final Kudus Indonesia Masters Usai Menang Tiga Gim
Kemnaker Umumkan Syarat dan Cara Daftar Pelatihan Vokasi Korban PHK
MILLS Luncurkan Koleksi Musim Panas 2027 Bertajuk Next Inheritance
Pangkoops: Dua Anggota KKB Tewas Saat Kontak Tembak di Nduga
Polisi Selidiki Pesawat Asian One Air Tergelincir di Intan Jaya
Presiden Iran Akan Bahas Ekonomi, Isu Global dengan Putin
Komentar (0)
Memuat komentar…







