KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Andriko Noto Susanto, mengingatkan semua instansi untuk meningkatkan upaya dalam pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah provinsi kepulauan ini. Permintaan tersebut disampaikan dalam sebuah rapat koordinasi yang diadakan di Kupang dan dihadiri oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Masyarakat yang tinggal di NTT, imbuhnya, seringkali mengandalkan kawasan dengan status Area Penggunaan Lain (APL). Mereka juga memiliki tradisi bertani yang menggunakan metode tebas bakar. Meskipun metode ini dapat mengurangi biaya operasional, di sisi lain, ia menyebarkan asap dan dapat menyebabkan kebakaran lahan yang meluas. Andriko menjelaskan bahwa secara ekologis, lahan, semak-semak, dan hutan di wilayah NTT lebih banyak didominasi oleh ekosistem savana. Kondisi ini membuat potensi bahan bakar dari binatang semak dan alang-alang menjadi lebih rentan terbakar. Di satu sisi, bahan-bahan tersebut juga lebih mudah dipadamkan, namun hal ini berdampak pada tingginya frekuensi *hotspot* yang terpantau di wilayah ini. Dia menekankan perlunya pendekatan yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, selama ini, pola pemanfaatan sumber daya cenderung hanya mengambil, menggunakan, dan membuang. Dalam kerangka ekonomi sirkular, pendekatan yang benar seharusnya melibatkan praktik *renew, reuse, reduce, recycle,* dan *refurbish*. “Pada dasarnya, kita tidak lagi perlu mengambil, menggunakan, dan membuang. Melainkan menerapkan pola-pola yang telah disebutkan agar siklus ekosistem bumi tetap terjaga dengan baik,” tuturnya. Andriko juga menegaskan bahwa penting untuk membangun tanpa merugikan lingkungan. Dalam pandangannya, tindakan berlebihan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya, termasuk dalam membakar sampah, adalah salah satu bentuk dari penyiksaan terhadap bumi. Oleh karena itu, pengendalian terhadap cara-cara tersebut sangat dibutuhkan agar tumbuh kembang flora, fauna, serta sumber daya lainnya dapat seimbang. Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa menurut prediksi dari *World Meteorological Organization (WMO)*, suhu bumi diperkirakan akan meningkat sekitar 3 derajat Celsius pada tahun 2027-2028. Kenaikan suhu ini dapat mempercepat proses dekomposisi dan mengganggu produksi makanan. Selain itu, penguapan air akan semakin cepat, menyebabkan berkurangnya sumber air permukaan. "Jika suhu bumi meningkat secara drastis, kita mungkin akan menghadapi ancaman krisis pangan global. Penurunan pasokan makanan di seluruh dunia dan ketidakcukupan produksi pangan di daerah kita harus menjadi perhatian serius,” ungkapnya dengan tegas. ANTARA