JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Budi Iman Santoso, menekankan perlunya pengaturan yang lebih tegas untuk menghilangkan praktik perundungan dalam lingkungan pendidikan kedokteran. Menurutnya, tanpa adanya regulasi yang konkret dan sanksi yang jelas, upaya untuk menghentikan perundungan akan sia-sia. Dia juga menegaskan pentingnya langkah sosialisasi dan pembinaan sebelum penerapan aturan tersebut. Dalam kesempatan berbicara setelah memberikan kuliah umum di FKUI Salemba, Jakarta Pusat, ia berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI. Dalam perannya itu, dia berkomitmen untuk melindungi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) agar tidak jatuh ke dalam budaya perundungan yang pernah dialaminya sendiri. Budi mempertanyakan praktik yang sudah lama berlangsung, di mana dalam kepemimpinannya, ia melakukan perubahan dengan membalikkan pola yang ada. Alih-alih membiarkan junior menanggung tuntutan kebutuhan dokter senior, ia mengambil alih tanggung jawab tersebut. "Dulu di Departemen Obsgin FKUI saat saya menjadi kepala, perundungan sudah tidak ada lagi. Saya selalu menyediakan lima kotak pisang jika ada PPDS yang datang," ujarnya. Ia mengungkapkan pengalamannya saat menjadi mahasiswa PPDS saat belajar tentang persalinan. Pada masa itu, seniornya pernah meminta es krim sebagai imbalan jika kemampuannya belum mencukupi. "Saya pernah mengalami, jika ingin belajar tentang sesar, saya harus menyediakan satu liter es krim sebagai syarat untuk senior," katanya. Praktik tersebut berlangsung terus hingga seniornya mengonfirmasi kemampuannya yang sudah memadai. Walaupun saat itu ia tidak melihat perlakuan tersebut sebagai perundungan, Budi berusaha berpikir positif dan tidak menyerah, yang akhirnya membawanya menjadi mahir dalam tindakan partus dan cesar. Ia meyakini bahwa seorang dokter senior seharusnya berperan dalam mentransfer pengetahuan kepada junior, menjadikan profesi kedokteran yang sangat berorientasi pada keselamatan pasien menjadi lebih baik. Budi Iman menjelaskan, "Saya selalu meyakini bahwa semua guru dan senior saya memiliki pengetahuan yang lebih baik, sehingga mereka berhak untuk mengajarkan kemampuan serta memberikan transfer of knowledge atau skill kepada saya. Saya tidak akan meniru hal-hal yang buruk karena tidak ada manusia yang sempurna." Di lain pihak, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, menegaskan bahwa perundungan tidak boleh terjadi di Program Pendidikan Dokter Spesialis mana pun di seluruh Indonesia. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap dugaan perundungan yang dialami oleh mahasiswi PPDS Anestesi Universitas Diponegoro, Dokter Aulia Risma Lestari, yang saat ini tengah dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. "Kita ingin menghilangkan perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis di seluruh Indonesia," tegas Wamenkes Dante saat memberikan pernyataan kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta. ANTARA