BORNEONEWS, Palangka Raya - Lamuel tidak bisa lagi bermain dengan anak sebayanya. Dulu, balita yang kini berusia 1,11 tahun berwajah tampan itu gesit. Tingkahnya lucu, bikin gemas dan tentu wajah bahagia mewarnai orang tua. Namun, semua begitu cepat berubah. Kebahagiaan orang tua spontan dirundung kesedihan. Mereka tak bisa lagi mendengarkan kata “mama” ataupun “bapak”. Kondisi Lamuel makin parah.
Wajah ceria itu hilang. Yang ada hanya ratapan kesedihan dan menunggu akan datangnya keajaiban. Bahkan hari-hari Lamuel kini hanya terbaring lemah di atas kasur. Berada di pangkuan ibunya, Nurwani dan bereda dalam gendongan ibunda tercintanya itu. Gerakan-gerakan lincah itu kini juga berubah seketika menjadi tangisan.
Tak bisa berbicara, tangan dan kakinya juga tak bisa lagi digerakkan secara normal. Bagian pergelangan tangan kini sudah mulai terlihat menekuk bengkok di bawah. Memakan nasi juga tak seselera layaknya dulu kala. Lamuel hanya bisa menangis, menangis dan menanangis seakan menahan rasa sakit yang tak terhingga.
Tangisan dan jeritan kesedihan itu akan menjadi saksi di rumah mereka berkonstuksi kayu, Desa Bereng Jun, Kecamatan Tumbang Talaken, Kabupaten Gunung Mas. Sanak keluarga, tetangga juga merasa iba atas kondisi Lamuel saat ini. Tak sedikit pula mereka yang datang untuk menghibur dan membusuk Lamuel.
Inilah kondisi Lamuel, korban dugaan malpraktik RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya saat ini. Keadannya jauh berbeda dibanding ketika wartawan menemuinya kala masih berada di kediaman kakeknya, Badun Isat, Jalan Tjilik Riwut Km 13 Palangka Raya pada Minggu (22/5/2016).
Tidak sedikit sudah biaya yang keluar untuk mengobati anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Nurwani dan Geni ini. Kira-kira mencapai Rp 60 juta dari total semuanya. Upaya dalam proses pengobatan tradisional yakni diurut juga belum membuahkan hasil.
Usaha dagangan warung juga sudah tidak lagi berjalan. Geni yang bekerja sebagai buruh kepala sawit juga tidak bisa konsentrasi sehingga terkadang juga nganggur. Menurut orangutan Lamuel, sejak kelumpuhan itu mendera, Lamuel sudah mulai kesulitan makan.
Nurwani menuturkan, sebelum lumpuh dan didiagnosa terdapat cairan dalam otak, Lamuel hanya sakit panas biasa disertai muntah-muntah. Lamuel sempat dirawat di RS Bhayangkara selama tiga hari kemudian dirujuk ke RSUD dr Doris Sylvanyus Palangka Raya.
Tak lama kemudian, di Doris itulah kelumpuhan terjadi. Lamuel juga mendapat puluhan suntikan. Lamuel juga pernah dibawa berobat ke RS Ulun di Banjarmasin. Nurwani mengutip ungkapan dokter setempat, mengatakan bahwa kondisi Lamuel sudah diambang batas karena sudah mendapat dosis yang tinggi. Juga sudah banyak cairan obat yang masuk di bagian otak.
Saat ini, tabungan orang tua Lamuel telah terkuras. Kalaupun hendak dibawa berobat ke luar dari tempat tinggalnya, mereka sudah kebingunan dari sisi dana. Mereka kini juga berharap ada sumbangsih dari siapa saja yang ikhlas menyisihkan rizkinya untuk kembali dibawa berobat. (BUDI YULIANTO/m)
Sungguh Kasihan! Kondisi Lamuel Makin Parah
Bagikan:
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Gubernur Kalteng Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Perdamaian
Korban Karhutla Bromo Kembali Meninggal Dunia di RSUD Dr Soetomo
Komentar (0)
Memuat komentar…







