JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Upland Project yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian telah melaksanakan pelatihan mengenai publikasi media untuk para pendamping petani yang tersebar di 13 daerah binaan di seluruh Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran digital dari komoditas pertanian di masing-masing wilayah. Di era yang serba digital ini, Muhammad Ikhwan, selaku Manajer Upland Project, menegaskan pentingnya beralih dari pemasaran konvensional ke metode digital. Ia mengungkapkan bahwa saat ini pemasaran sudah banyak beralih ke platform *marketplace* dan *online*, sehingga pelatihan semacam ini menjadi sangat krusial. Ikhwan juga menekankan bahwa meskipun beberapa produk masih menggunakan cara pemasaran tradisional, dominasi pemasaran digital harus dioptimalkan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Ia berharap, pelatihan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pendamping dari 13 lokasi, sehingga mereka dapat mengadaptasi dengan cepat strategi pemasaran digital yang telah disiapkan. Peralihan dari metode pemasaran tradisional ke digital dianggap sebagai langkah strategis. Ikhwan berpendapat bahwa agar produk pertanian dapat bersaing di pasar *online*, harus ada adaptasi yang cepat dan tepat. Pelatihan ini diharapkan juga memberikan bekal yang cukup bagi peserta untuk menerapkan strategi yang telah diajarkan di daerah masing-masing. Penting untuk diingat bahwa tindak lanjut dari pelatihan ini sangat diperlukan untuk memastikan hasil yang positif. Upland Project yang sebelumnya direncanakan akan berakhir pada tahun 2024 kini diperpanjang hingga 2026. Perpanjangan ini dilakukan dengan mempertimbangkan alokasi dana dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan pertanian. Proyek ini telah melibatkan investasi sebesar Rp1,8 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk pelatihan dan pengembangan infrastruktur yang mendukung. Ikhwan menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang menjadi fokus dalam pemasaran produk. Pertama adalah kualitas produk yang harus memenuhi standar baik. Kedua, kuantitas produk yang harus sesuai dengan permintaan pasar, dan ketiga adalah kesinambungan pengiriman produk agar tidak terputus dari bulan ke bulan. Dia juga mendorong para peserta untuk terus mengembangkan keahlian dalam pengelolaan pemasaran produk agar dapat meningkatkan pendapatan dan produktivitas para petani. Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat terjadi peningkatan daya saing produk lokal serta kontribusi yang signifikan terhadap tujuan yang telah dicanangkan oleh Upland Project. Dalam kesempatan terpisah, Risda Sinaga, sebagai Pejabat Pembuat Komitmen Upland Project, menyatakan harapannya agar pelatihan ini dapat memberikan dampak positif bagi penghasilan petani di daerah binaan. Ia berharap bahwa dengan meningkatnya kemampuan dalam pemasaran, penghasilan petani turut meningkat. Risda juga menyoroti pentingnya pelatihan ini untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai teknik dan strategi pengelolaan konten digital yang efektif. Keterampilan dalam menciptakan konten yang menarik dan relevan akan sangat mendukung promosi program-program Upland serta membangun citra positif di masyarakat. Menurutnya, melalui pelatihan ini, peserta diharapkan dapat menguasai keterampilan yang diperlukan untuk menghasilkan konten digital yang berkualitas dan berdampak. Target selanjutnya adalah membentuk tim media yang handal di setiap wilayah kerja Upland Project, yang mampu memproduksi dan mendistribusikan konten digital secara efisien dan kompetitif. Dengan pelatihan ini, Risda optimis bahwa sektor pertanian dapat tumbuh lebih pesat dan memberikan dampak positif bagi para petani di daerah binaan, sehingga mereka dapat merasakan manfaat yang lebih besar dari program ini. ANTARA