BORNEONEWS, Palangka Raya – Gerakan Pemuda Dayak Indonesia menilai kinerja Perusahaan Listrik Negara (persero) di Kalimantan Tengah buruk. Hal itu disebabkan pasokan listrik yang sangat minim di Kalimantan Tengah sehingga masyarakat secara luas belum bisa menikmatinya. Padahal daerah tersebut merupakan daerah penghasil batu bara.

“Listrik di Kalimantan Tengah belum merata, selain itu listrik juga sering padam, tetapi tagihan listrik selalu naik,” ungkap Ketua Gerakan Pemuda Dayak Indonesia (GPDI) Yansen Binti.

Di daerah ini belum ada pembangkit listrik. Selama ini masih tergantung pada pembangkit listrik Asam-asam di Kalimantan Selatan.  Batu bara yang dihasilkan Kalteng lebih banyak dibawa kelular daerah atau diekspor. 

Berbagai alasan tersebut membuat Yansen Binti menitipkan permasalahan listrik di Kalteng dalam Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)di Papua yang akan dilaksanakan akhir Juli ini.

“Kami bagian dari Kalteng, segala masalah yang dihadapi pemerintah akan kami bawa dan kami bahas kembali,” kata Pengurus Pusat Komisariat Daerah wilayah VIII (KOMDA) Dicky Ricardo Gultom. (*)