SURABAYA –
**Borneonews - Mojokerto**, Pemerintah Kota Mojokerto, yang terletak di Jawa Timur, baru-baru ini melaksanakan penyaluran bantuan pangan yang bersumber dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) kepada 796 keluarga yang teridentifikasi berada dalam risiko stunting. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Pos Mojokerto. Penjabat Wali Kota Mojokerto, Moh Ali Kuncoro, menjelaskan pada hari Kamis bahwa bantuan yang disalurkan tersebut berupa satu ekor ayam dan sepuluh butir telur untuk setiap keluarga. Proses penyaluran bantuan dilakukan secara berkala, yaitu enam kali dalam setahun, khusus ditujukan bagi keluarga yang berpotensi mengalami stunting. “Bantuan pangan ini sangat penting untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga, khususnya bagi anak-anak balita. Dengan pengadaan bantuan ini, kami berharap dapat mengurangi terjadinya kasus stunting baru. Penuhi gizi anak-anak kami demi masa depan yang lebih sehat,” ungkapnya. Pemerintah Kota Mojokerto menunjukkan komitmen yang kuat untuk menanggulangi permasalahan stunting. Hal tersebut tergambar dari berbagai aksi dan program yang digerakkan dengan melibatkan banyak pihak, termasuk instansi pemerintah, vertikal, serta masyarakat setempat. Di antara berbagai upaya tersebut, terdapat program Neo Baksos MAK, yang dilaksanakan di hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Dengan program ini, bantuan pangan bergizi disalurkan secara rutin, terutama kepada keluarga yang memiliki balita yang mengalami stunting. Ini merupakan langkah nyata dari Pemkot untuk meningkatkan kesehatan anak-anak. Lebih lanjut, Pemkot Mojokerto melanjutkan inovasinya dalam mempercepat penurunan angka stunting melalui berbagai program yang kreatif. Di antara program-program tersebut adalah Gempa Genting, yang merupakan Gerakan Masyarakat Peduli Gizi Stunting, serta Canting Gula Mojo, yang merupakan akronim dari Cegah Stunting. Selain itu, terdapat juga Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto. “Syukurlah, upaya-upaya kami membuahkan hasil yang positif, yang dapat dilihat dari penurunan prevalensi stunting di daerah kami. Data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) menunjukkan bahwa prevalensi stunting menurun dari 3,12 persen di tahun 2022 menjadi 2,04 persen pada tahun 2023, dan terus menurun hingga sebesar 1,85 persen pada bulan Juli 2024,” jelasnya. ANTARA