PALANGKARAYA –
**Borneonews - Palangka Raya**, Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah (Kalteng) mengadakan sebuah diskusi kelompok fokus atau *Focus Group Discussion* (FGD) bersama dengan berbagai organisasi masyarakat di wilayah ini. Acara tersebut diadakan dengan tujuan utama untuk menangani konflik sosial berdasarkan falsafah lokal Huma Betang. Brigjen Pol Rakhmad Setyadi, Wakil Kepala Polda Kalteng, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah transformasi dalam peran Polri untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan berbagai isu lainnya dengan pendekatan kearifan lokal yang tertuang dalam Huma Betang. Falsafah ini mengandung nilai-nilai penting, termasuk pluralisme, yang menekankan pada penerimaan perbedaan dan keanekaragaman dalam masyarakat untuk menyelesaikan masalah melalui musyawarah. "Dalam upaya ini, mari kita bersama-sama menjaga persatuan bangsa agar tidak terpecah belah. Kalimantan Tengah adalah satu kesatuan, satu keluarga," ungkap Rakhmad dalam acara yang berlangsung di Palangka Raya pada hari Kamis. Rakhmad juga mengajak semua organisasi masyarakat dan tokoh-tokoh setempat untuk secara aktif meningkatkan kerja sama dan kolaborasi demi terciptanya keamanan dan kenyamanan di Kalteng. Ia menekankan pentingnya semua pihak untuk bersatu dalam merumuskan kebijakan yang bertujuan mengurangi potensi konflik sosial dan sengketa lahan. "Saya berharap semua stakeholder dapat sepakat bahwa jalan untuk menyelesaikan setiap permasalahan haruslah tanpa konflik," tambahnya. Dalam kesempatan tersebut, Kabid Humas Kombes Pol Erlan Munaji menyampaikan bahwa acara ini juga disertai dengan peluncuran aplikasi yang dinamakan Betang Kebanggaan. Aplikasi ini diinisiasi oleh Karorena Kombes Pol Andreas Wayan dan bertujuan untuk mendukung upaya penyelesaian masalah di masyarakat. Acara FGD ini ditutup dengan penandatanganan deklarasi damai yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik sosial dan sengketa lahan, yang dilakukan oleh Wakapolda Kalteng bersama seluruh peserta diskusi. Erlan berharap, dengan adanya komitmen yang terjalin dalam acara tersebut, konflik sosial yang kerap terjadi di provinsi yang luasnya dua kali lipat dibandingkan Pulau Jawa ini dapat diselesaikan secara efektif. "Semoga, dengan sinergi yang terjalin, kita dapat mencegah terjadinya konflik sosial di wilayah hukum kita," demikian harapan Erlan di akhir pernyataannya. ANTARA