**Borneonews - Jakarta**, Pakar kebencanaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Harkunti Pertiwi Rahayu, menyarankan agar para pembuat kebijakan di tingkat global, terutama negara-negara anggota ASEAN, mengembangkan sistem peringatan dini yang efektif untuk bencana gempa dan tsunami. Ia menekankan pentingnya informasi tersebut dapat diakses oleh semua kelompok, termasuk individu yang memiliki disabilitas.
"Meski sistem peringatan dini sangat penting, sejatinya manfaatnya akan terukur jika semua orang yang berisiko dapat merespons, tanpa menghiraukan status atau kemampuan fisik mereka. Saat ini, kenyataannya, hal itu belum sepenuhnya terpenuhi," ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara Asia Disaster Management and Civil Protection Expo, Conference (ADEXCO) dan Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) di Jakarta.
Harkunti menyampaikan apresiasinya terhadap upaya banyak negara di dunia yang berkompetisi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sistem peringatan dini dengan teknologi terkini. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pengembangan berbagai teknologi tersebut tidak akan efektif jika pesan yang disampaikan tidak dapat dijangkau oleh kelompok difabel.
"Ironisnya, saat ini, kelompok yang kurang beruntung ini masih belum menjadi prioritas utama dalam pengembangan sistem peringatan dini," jelasnya.
Harkunti menambahkan, perhatian khusus harus diberikan oleh negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, yang memiliki sekitar 22,5 juta penduduk dengan disabilitas dan belum memiliki sistem peringatan dini yang memadai bagi kelompok rentan. Ia memberikan contoh situasi yang bisa terjadi: "Bayangkan jika terjadi gempa dan tsunami saat anak-anak berada di sekolah, seperti di Padang, Sumatera Barat, di mana dua pertiga murid sekolah berada di daerah rawan bencana. Mereka pun berhak mendapatkan akses ke sistem peringatan dini agar dapat menghindar dari bahaya."
Harapannya, kondisi ini dapat segera ditindaklanjuti, sesuai dengan kesepakatan dari UN IOC ODTP yang menyatakan bahwa pada tahun 2030, seluruh masyarakat rentan di dunia harus memiliki akses terhadap ketahanan bencana tsunami.
Dalam penjelasannya, Harkunti memberikan contoh inovasi seperti penggunaan fitur *vibration alerts* pada ponsel, yang bisa sangat bermanfaat untuk menyampaikan informasi tentang tsunami kepada penyandang tunanetra dan tunarungu.
ADEXCO sendiri adalah pameran internasional yang mempertemukan perusahaan, instansi pemerintah, dan para ahli di bidang manajemen bencana, serta menjadi platform untuk pertukaran ide dan informasi produk terkait industri ini.
Di ADEXCO 2024, akan ada sebanyak 126 perusahaan dari 14 negara berpartisipasi, termasuk Jerman, Singapura, Brunei, dan China. Sementara itu, GFSR adalah forum diskusi yang melibatkan delegasi negara ASEAN dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) yang membahas isu-isu ketahanan, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pemungutan pelajaran dari bencana tsunami Samudra Hindia yang terjadi 20 tahun lalu.
Acara ADEXCO 2024 dan GFSR akan dilaksanakan pada tanggal 11 hingga 14 September 2024 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, dan terbuka untuk umum.
ANTARA
Pakar ITB Desak ASEAN Kembangkan Peringatan Tsunami untuk Difabel
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Satresnarkoba Polres Seruyan Tangkap Pengedar Sabu di Rungau Raya, 14 Paket Disita
Kemenpar Harap Sepak Bola Sebagai Sport Tourism Promosikan Pariwisata
DPKP Tingkatkan Pemantauan Kesehatan Hewan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Pelajar SMA Palangka Raya Raih Medali Emas Kompetisi Riset Internasional
SMAN 3 Kasongan Terima Dua Interactive Panel Display dan Starlink
Kholidin/Noviera Raih Perak para Panahan Asian Para Games 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







